“Ini … bukan mimpi kan? Kalian beneran … disini?” Sang Ibu mengangguk cepat dengan wajah basah berderai air mata. “Iya, Vanya. Ini bukan mimpi.” Tak menunggu lama, Vanya bangkit dan langsung memeluk mereka berdua. Tangannya melingkar erat di tubuh sang Ibu, Violet dan adiknya, Varsha, seolah takut jika dilepas mereka akan menghilang lagi. Tangisnya pecah, histeris, tanpa sisa kendali. “Aku kangen kalian …,” isaknya tertahan. “Aku takut banget, Bu. Takut sampai rasanya napas aja sakit.” Varsha ikut menangis, memeluk pinggang kakaknya dengan tenaga kecil yang gemetar. “Aku juga kangen Kak Vanya,” katanya terisak. “Aku takut Kakak kenapa-kenapa.” Violet menahan napas, lalu mengusap punggung Vanya pelan tapi pasti. Matanya merah, rahangnya menegang menahan emosi yang tertahan berbulan-bulan. “Tenang, sayang,” ucapnya lirih. “Kami di sini sekarang.” Vanya menarik sedikit jarak, menatap wajah ibunya yang tampak lebih kurus, lebih lelah dari terakhir kali ia ingat. “Bu, bagaim
Last Updated : 2026-02-01 Read more