Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden yang berat, menyinari kamar utama yang kini terasa jauh lebih tenang dibandingkan malam sebelumnya.Damian duduk menyandar pada headboard tempat tidur berbahan kulit mahal, tatapannya kosong menatap lurus ke arah jendela.Jemarinya yang panjang perlahan naik, mengusap permukaan bibirnya sendiri dengan gerakan sangat pelan, sebuah gestur yang tak sadar dia lakukan sejak matanya terbuka.Rasa hangat, lembut, dan getir dari air mata Revana dalam ciuman semalam masih tertinggal di sana, seolah-olah aroma gadis itu telah menyatu dengan pernapasannya.Damian menggeram rendah, sebuah umpatan kasar keluar dari bibirnya yang pucat.“Sialan,” desisnya pada keheningan ruangan.Dia membenci dirinya sendiri karena dalam kondisi terlemahnya semalam, ia justru membiarkan pertahanannya runtuh.Dia membenci kenyataan bahwa meskipun dendam membakar jiwanya, tubuhnya justru mengkhianati akal sehatnya dengan terus-menerus ingin menyentuh Revana,
Last Updated : 2026-01-31 Read more