Surya menatap tegang pada Kiran.“Psikiater?” Surya mengulang.Kiran mengangguk.“Aku bisa mendengar suara ban meledak, bisa mendengar suara-suara keras lainnya yang tidak nyaman di telinga. Tapi, kenapa aku tidak bisa mendengar suara petir? Aku hanya ingin tahu, apa ini karena aku punya trauma.” Kiran mengembuskan napas kasar.Surya terdiam. “Ayah tenang saja, aku akan pergi dengan El. Aku akan baik-baik saja.” Kiran melebarkan senyumnya setelah meyakinkan Surya.Surya menatap Kiran yang penuh semangat.Dia tidak mau mematahkan, apa pun yang ingin putrinya lakukan.“Baiklah, kalau kamu pergi dengannya, Ayah bisa tenang.” Senyum lebar Surya terangkat di wajah tuanya. “Kalau begitu, sekarang kamu harus sarapan yang banyak, agar punya banyak tenaga dan bisa menjalani harimu dengan lancar.”Ucapan penuh semangat sang ayah, mampu membuat kepala Kiran mengangguk kuat.“Aku pasti akan makan banyak, apalagi jika makanannya masakan Ayah.”Setelah bicara, Kiran tertawa lepas.Sedang Surya lega
Read more