"Aku pulang dulu, Mang," pamitku sambil menyalakan mesin motor tuaku yang menderu kasar.Mang Maman yang masih asyik menyeruput kopinya menoleh. "Lah, kok buru-buru amat, Ris? Nanggung, bentar lagi bocah-bocah pelabuhan yang lain pada balik. Rame di sini.""Nanti aja aku ke sini lagi, Mang. Ada urusan di rumah yang belum kelar," jawabku singkat.Mang Maman manggut-manggut, lalu menepuk pundakku keras sebelum aku menarik gas. "Ya sudah kalau gitu. Ingat pesan Mamang tadi, Ris. Jangan pernah takut sama perempuan, apalagi cuma gara-gara dia kaya. Jangan mau dimanfaatkan. Kita itu laki-laki, kita punya kuasa. Buat dia bertekuk lutut, bukan kamu takluk sama dia."Aku hanya mengangguk mantap, lalu berpamitan pada Mang Asep dan Mang Edi yang juga ada di sana. Kata-kata Mang Maman terus terngiang di kepalaku sepanjang jalan. Benar, aku harus berhenti menjadi korban keadaan. Kalau aku ingin menghancurkan Nikita, aku harus memegang kendali atas gairahnya, bukan sekadar menjadi pemuas nafsunya.
더 보기