“Uhuk. Uhuk. Uhuk .…”Joana terbatuk keras, terengah-engah sambil berusaha hirup udara sebanyak mungkin. Tubuhnya tampak begitu kacau dan menyedihkan.Surya duduk di sampingnya. Seluruh tubuh pria itu juga basah kuyup. Tetesan air mengalir dari ujung rambutnya, jatuh perlahan di wajah tampannya. Anehnya, keadaan itu justru tambah pesona yang sulit diabaikan.“Makasih.” Joana berkata lirih sambil atur napasnya. Suaranya bergetar halus. Bukan karena takut, melainkan karena dingin.Angin malam di tepi danau berembus begitu kencang. Terlebih lagi, dia baru saja tercebur ke dalam air. Seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya sudah basah kuyup.Saat diterpa angin malam, tubuhnya langsung menggigil tanpa henti. Tanpa berkata apa-apa, Surya segera lepaskan jasnya dan selimutkan ke Joana rapat-rapat. Kemudian dia membungkuk, angkat Joana ke dalam gendongan ala pengantin.“Tuan Muda, apa yang terjadi?”Paman Usman, kepala pelayan Keluarga Setiawan, akhirnya datang bersama beberapa pelayan lainny
더 보기