Dalam sendirinya, di ruang kerja yang remang, Seno Baskara memutar-mutar sebuah cincin di atas meja. Matanya yang cekung menatap tajam pada pantulan cahaya di logam mulia itu.Bagi Seno, gangguan dalam bisnis adalah hal yang wajar, dan rintangan hidup adalah sesuatu yang bisa ia gilas dengan uang.Namun, saat nama Riga yang kembali muncul ke permukaan, semua terasa berbeda.“Mengapa kau harus datang di saat seperti ini?” gumam Seno pelan, suaranya terdengar parau antara luka dan ketakutan.Keluarganya sedang kacau, dan perusahaannya di ambang kebangkrutan, membuat Seno merasa kedatangan Riga layaknya karma, tagihan dari masa lalu yang kini menuntut pelunasan.***Di sebuah sudut kota yang jauh dari kemewahan, Riga berdiri di tengah kamar kos milik Denis.“Kita tukar tempat tinggal selama sebulan. Sampai aku resmi menikah,” ujar Riga tanpa basa-basi.Denis, yang baru saja melepas sepatunya, tertegun. “Tukar tempat? Bos, Anda bercanda? Untuk apa?”Riga menyapu pandangan ke sekeliling ru
Mehr lesen