Sofia segera mendorong dada Riga saat pria yang kini sudah sah menjadi suaminya kembali mencoba mengikis jarak. Napas Sofia masih sedikit memburu, dan rona merah di pipinya bukan lagi karena riasan, melainkan sisa gairah yang tertangkap basah oleh sang mama. “Cukup, Riga. Papa dan Mama sudah menunggu di bawah,” ucap Sofia cepat, berusaha terlihat tetap tenang, tak ingin Riga tahu betapa mudahnya ia takluk hanya dengan satu sentuhan. Sofia melangkah lebar meninggalkan kamar, namun Riga dengan sigap meraih jemarinya. Genggaman itu erat dan hangat. “Jangan tegang begini. Kau lihat sendiri, mama sangat bahagia melihat kebersamaan kita,” bisik Riga lembut. Kalimat itu meluluhkan benteng pertahanan Sofia. Meski awalnya menolak, Hesti menjadi orang yang paling antusias dan bahagia dengan pernikahannya. Mengingat itu, membuat Sofia perlahan membalas genggaman tangan Riga. Riga dan Sofia menuruni tangga dengan langkah seirama, jemari yang bertautan menjadi pemandangan yang membuat Wira,
Mehr lesen