Alarm bahaya seolah berbunyi nyaring di kepala Sofia. Sentuhan Riga, napasnya yang memburu, dan aroma maskulin yang menguar dari tubuh pria itu benar-benar mengikis kewarasan Sofia. Sebelum benar-benar kehilangan kendali, Sofia mengumpulkan sisa tenaganya dan mendorong dada Riga dengan kuat. “Tidak, Riga!” Suara Sofia bergetar namun tegas. “Kau tidak boleh masuk ke sini sebelum kita sah menjadi suami istri.” Sofia menatap Riga dengan tatapan yang berusaha ia buat sedingin mungkin, meski bibirnya masih terasa panas akibat ciuman tadi. Sofia sadar, sesadar-sadarnya jika pintu itu terbuka malam ini, mungkin mereka tidak akan bisa mengendalikan diri. Riga terdiam, menatap Sofia dengan napas yang masih belum stabil. Ia melihat ketakutan sekaligus hasrat di mata wanita itu. Perlahan, Riga melepaskan kungkungannya, memberikan ruang bagi Sofia untuk bernapas. “Dua minggu lagi,” bisik Riga pelan, suaranya serak. Tampaknya dia harus bersabar. Namun, sebelum benar-benar berbalik, Riga m
Mehr lesen