"Tidak peduli siapa dia, dia harus mati di sini hari ini!" Tetua Ketiga tidak bisa lagi menahan diri. Tubuhnya melesat turun dari atas panggung batu, memotong barisan pembunuh yang mulai ragu-ragu.Aura Tetua Ketiga meledak sepenuhnya, menampilkan warna merah tua yang pekat laksana darah segar. Saat ini, dia berada di ranah Alam Surgawi Tahap Awal. Tongkatnya yang dilapisi oleh energi merah tajam, langsung berubah wujud menjadi tombak energi sepanjang dua meter yang memancarkan raungan."Saksikan Teknik Pemecah Jiwa Kuno!" teriak Tetua Ketiga sambil mengayunkan tongkatnya dari atas kepala, menghujam langsung menuju ubun-ubun Davien.Udara di dalam aula seolah terbelah, menciptakan siulan nyaring yang sanggup merusak pendengaran orang biasa.Davien menengadah, matanya yang sedingin es mengunci pergerakan tongkat tersebut. Alih-alih menghindar seperti sebelumnya, kali ini Davien mengangkat tangan kirinya, bersiap menerima serangan itu dengan telapak tangan kosong.BLANGG!Benturan ant
Mehr lesen