"Dia tidak meminta maaf," potong Jessi cepat, suaranya mulai meninggi, sarat akan kekecewaan yang mendalam. "Dia tidak menunjukkan keraguan sedikit pun, Ayah."Cengkeraman tangan Jessi di pangkuan semakin kuat, hingga kain bajunya sedikit kusut."Dia bahkan menatapku bukan sebagai seorang wanita atau sekutu yang harus dihormati, melainkan seperti sesuatu yang tidak layak ada di dekatnya."Stanley terdiam sejenak. Ia menyandarkan punggungnya ke jok kulit, memperhatikan setiap perubahan emosi di wajah putrinya tanpa menyela.Tatapannya perlahan turun ke sisi wajah Jessi. Bekas cakaran itu masih terlihat jelas, garis dalam yang merobek kulitnya, kini hanya tertutup perawatan sementara, namun belum sepenuhnya pulih. Jejak itu bukan sekadar luka, melainkan penghinaan. Tanda dominasi yang ditinggalkan secara sengaja.Rahang Stanley mengeras. Pemandangan itu masih terpatri di ingatan, darah di wajah Jessi, tatapan para tetua, dan keheningan yang dipenuhi tekanan. Itu bukan sekadar serangan.
آخر تحديث : 2026-05-06 اقرأ المزيد