Malam semakin larut ,koridor hotel yang beberapa jam lalu masih dipenuhi suara tawa peserta pelatihan, derap langkah sepatu, dan obrolan ringan kini mulai lengang ,kesunyian merayap perlahan, digantikan oleh hening yang berat ,sesekali hanya terdengar langkah kaki petugas housekeeping yang mendorong troli linen melewati lorong panjang, suaranya bergema samar seperti detak jantung yang lelah. Di balik salah satu pintu kamar bernomor 1204, Aruna masih berdiri mematung ,punggungnya bersandar kuat pada daun pintu kayu yang baru saja ia kunci rapat, seolah mengunci dunia luar beserta segala kenangan buruknya ,ia tidak langsung menyalakan lampu ,ruangan hanya diterangi cahaya kota yang masuk melalui jendela besar, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari-nari di dinding ,remang-remang ,sepi, persis seperti isi kepalanya saat ini ,kacau, gelap, dan kosong sekaligus ,perlahan ia melepaskan tas dari bahunya ,tali tas itu melorot, dan tas jatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk pelan, dib
Mehr lesen