Wildan berdiri tegak di hadapan pembunuh bayaran yang benar-benar sudah tidak berdaya, sementara sebelah lengannya tetap mendekap erat sang buah hati. Wajahnya dingin tanpa ekspresi, namun sorot matanya memancarkan aura haus darah yang sanggup membuat siapa pun merinding ketakutan.Agar tidak menarik perhatian keamanan rumah sakit atau memicu kepanikan di area VVIP, dengan isyarat tangan singkat, Beno langsung menyeret tubuh sang pembunuh bayaran menuju ruang utilitas servis bawah tanah yang kedap suara.Di ruangan remang-remang itulah interogasi dingin tanpa ampun dilangsungkan."Siapa yang suruh kalian?" tanya Wildan dengan suara yang sangat dingin, datar, dan berbisik, namun terdengar bagaikan vonis mati di telinga sang penyusup. "A-ampun, Bos ... ampun…," rintih pembunuh itu terbata-bata, meraba ujung sepatu Wildan dengan tangan gemetar. "Tulang rusuk sayav ..." "Gue nggak nanya kondisi tulang lo," potong Wildan cepat, suaranya makin menekan penuh ancaman. "Sekali lagi lo buang
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-10-20 อ่านเพิ่มเติม