The Arc: Elenio

The Arc: Elenio

By:  Sianida  Completed
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
10
Not enough ratings
57Chapters
9.6Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

Terkadang Gemma suka bertanya-tanya, kutukan apa yang menimpa negara tempatnya tinggal. Elenio adalah sebuah negara kecil yang indah di samudra pasifik selatan. Tidak ada yang aneh dengan negara ini, kecuali satu hal. Negara ini melarang penduduknya untuk keluar pada malam hari. Semua karena makhluk malam yang berkeliaran, tanpa ada yang tahu pasti seperti apa wujud mereka. Pertemuan Gemma dengan seorang lelaki tampan yang pendiam, serta sikap sahabatnya, Jonathan, menuntun Gemma untuk menyingkap misteri yang menyelimuti Elenio. Sampai akhirnya Gemma mulai menyadari bahwa kutukan negara ini berkaitan erat dengan dirinya.

View More
The Arc: Elenio Novels Online Free PDF Dowload

Latest chapter

Interesting books of the same period

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Comments
No Comments
57 chapters
Prologue
Akan ada badai besar.Hazkiel bisa merasakannya dari angin yang bertiup, dingin dan kuat, dan dari awan mendung yang bergulung-gulung di langit, membuat penjuru negara ini diliputi kegelapan.Orang biasa akan mengira bahwa fenomena ini terjadi semata-mata karena cuaca buruk. Tapi tidak. Semua ini karena makhluk itu."Tuan Putri! Kita harus segera!" Suara lelaki yang familiar muncul dari belakang Hazkiel, membuatnya dan sang Putri menoleh.Pertama kali Hazkiel mendengar panggilan itu, ia merasa geli. Karena yang dipanggil Putri itu jauh lebih muda darinya, dan sikapnya sama sekali tidak mencerminkan seorang putri.Tapi setelah semua yang mereka jalani bersama, Hazkiel tak pernah lagi menganggap sang Putri sebagai lelucon."Hazkiel, ingat pesanku."Hazkiel hanya bisa mengangguk.Dia ingin sekali mengatakan supaya mereka mencoba cara lain. Ingin mengatakan bahwa semua tak perlu berakhir di sini.Ingin mengatakan bahwa Hazki
Read more
Trouble Maker
123 tahun kemudian...."Apakah kau selalu memakai celana ketat seperti itu?"Gemma melirik dari balik rambut panjang merah kecokelatan yang menutupi wajahnya. Ia tengah menikmati bir dingin setelah penampilan yang melelahkan beberapa menit yang lalu. Tidak bisakah orang-orang meninggalkannya sendirian saja untuk sesaat?Gemma memilih untuk tidak menjawab pertanyaan itu. Tapi yang ia lakukan justru membuat mereka semakin terpancing."Aku mendengar desas-desus bahwa kau adalah wanita yang sulit didekati. Tapi apa maksudmu dengan pakaianmu yang seperti ini, yang membuat semua lelaki berpikir bahwa kau 'terbuka' pada kami?"Gemma dapat merasakan seringai dari laki-laki yang mengajaknya bicara. Ia pun mendongak, memutuskan untuk melihat si pongah itu dengan lebih jelas.Gemma mencebik. Tipikal lelaki kaya yang mendapatkan hartanya dari warisan orang tua. Kemeja mahal dengan setelan jas buatan desainer. Rambut hitam yang disisir rapi ke b
Read more
Elenio
Gemma pikir seumur hidupnya ia tidak akan pernah keluar saat langit Elenio masih gelap. Tapi setelah ia pindah ke Ayria, ibukota Elenio, ia justru mempunyai kesempatan itu.Walaupun tak sepenuhnya gelap saat Gemma keluar, tetap saja ia merasakan sensasi yang berbeda. Gemma masih ingat bagaimana tubuhnya menyambut pengalaman pertamanya saat itu. Jantungnya yang berdegup tidak karuan, kakinya yang tak bisa berhenti gemetar. Bau udara malam menjelang pagi yang berembus, membelai kulit dan rambut Gemma. Dingin, lembab, dan sesuatu yang tak pernah bisa Gemma imajinasikan sebelumnya membuat seluruh tubuhnya larut dalam sebuah perasaan yang ... Ajaib."Kenapa kau suka sekali memancing keributan?"Gemma mendengus. Maya masih saja membahasnya?Siapa juga yang tahu kalau lelaki kaya tadi adalah tamu VIP di kelab malam itu?"Bukan aku yang memulai duluan,” jawab Gemma. Ia masih memandang keluar jendela mobil, tak mau melewatkan kesempatan melihat warna langit yang
Read more
First Sight
Gemma bangun saat matahari sudah menggantung tinggi di langit dan membuat hawa di dalam loteng menjadi sangat panas.Walaupun Gemma sudah membuka lebar-lebar jendela sebelum ia tidur, angin sepoi-sepoi yang masuk dari situ tak lagi mampu meredakan rasa gerah yang membuat Gemma banjir keringat.Gemma bangun dan duduk sejenak di atas kasur. Ia memandang berkeliling loteng yang kini menjadi kamarnya. Ruangan berukuran tiga kali lima meter dengan atap miring yang rendah. Untungnya Gemma memiliki badan yang mungil sehingga ruangan ini tidak terasa sesak untuknya.Sebuah lemari berisi baju-baju yang kebanyakan Gemma peroleh dari pasar loak, berdiri kokoh di sudut. Meja rias yang diatasnya berserakan alat rias seadanya. Sebuah rak buku yang penuh dengan buku-buku yang Gemma ambil dari perpustakaan. Ia sudah membaca sebagian besar buku di situ dan sudah waktunya ia mengganti koleksinya.Gemma membawa beberapa buku yang sanggup ia bawa, kemudian turun melalui tang
Read more
First Fight Today
Seorang dengan badan lebih kecil mengacungkan telunjuknya pada Gemma.Gemma menaruh telapak tangannya di dada dan bertanya dengan polos."Aku? Kalian mencariku?"Pria satunya, dengan badan bongsor yang membuat kaosnya terlihat bersusah payah menahan perut buncitnya, mendengus dengan kesal dan menaikkan nada bicaranya."Tidak usah pura-pura tidak tahu! Gara-gara kau, kami harus berada di rumah sakit selama tiga hari!!!"Gemma memiringkan kepalanya. Kini ia ingat siapa mereka. Dua orang itu adalah pria-pria yang ia hajar di sebuah kelab malam tempat Gemma mengadakan konser minggu lalu. Gemma menghajarnya karena mereka berani melakukan pelecehan pada seorang pelayan di sana.Yah, walaupun alasannya terdengar benar, tapi tetap saja pemilik tempat itu tidak mau tahu dan meminta ganti rugi pada Gemma."Hanya tiga hari? Kupikir sampai satu minggu."Gemma menekan jari-jari tangannya sampai menimbulkan bunyi. Pandangan matanya menggelap. Apa me
Read more
Meubena
"Kita mau kemana?"Gemma bertanya ketika iring-iringan mobil terus melaju, melindas aspal jalan lingkar luar timur kota Ayria, alih-alih menuju ke markas cabang Archturian di sebelah barat Ayria.

Read more

To The Nest
"Mohon maaf atas ketidaknyamanan selama perjalanan. Hanya protokol standar saat kami harus membawa orang asing ke markas."Kata-kata itu menyambut Gemma saat ia mulai bisa membuka mata. Dari napasnya yang tak terhalang, Gemma tahu kalau
Read more
I Don't Care
Gemma meletakkan satu tangannya di atas meja, dan tangan yang lainnya menyangga dagu. Jenis ancaman seperti ini sudah usang untuknya."Kau pikir aku peduli dengan apa yang terjadi pada hidupku?" cemooh Gemma.Gemma tahu bahwa pria misterius itu tidak menyangka ia akan memberi jawaban seperti ini."Hal terakhir yang pasti terjadi pada semua manusia adalah kematian. Tidak ada yang perlu ditakutkan,” ucapnya lagi.Walaupun tak nampak, Gemma dapat merasakan pria di hadapannya ini kehilangan kata-kata. Tapi itu tak lama, karena ia mulai membuka mulutnya lagi. Meskipun suaranya kini terdengar parau."Kau mungkin tidak peduli pada hidupmu, tapi apakah orang-orang terdekatmu punya pemikiran yang sama?"Gemma memandang pria itu dengan tatapan yang semakin malas."Orang terdekatku? Apa maksudmu, jika aku tidak menuruti keinginanmu, kau akan macam-macam dengan orang-orang yang dekat denganku?"Tak ada suara. Jadi jawabannya adalah y
Read more
Closer than a Brother
Suara gedoran di pintu membuat Gemma mengerang tanpa ia sadari. Kepalanya seperti mau pecah, dan matanya begitu berat. Perlu beberapa saat untuk Gemma mengumpulkan tenaga, merasakan setiap pergerakan otot dari tubuhnya.Gedoran di pintu
Read more
Jonathan
"Kau tahu, aku tidak suka setiap kali pergi bersamamu ke tempat umum.""Aku tahu. Kau mengatakannya setiap kali kita pergi bersama."Mereka berdua tengah makan di restoran cepat saji paling populer di Ayria, yang terletak sekitar empat ratus meter ke selatan dari perpustakaan tempat Gemma tinggal. Cukup lima belas menit berjalan kaki.Cuaca hari ini cerah dan menyenangkan untuk dihabiskan dengan menyantap makan siang di tempat duduk yang ditata di pinggir jalan. Sepertinya banyak yang satu pemikiran dengan Gemma dan Jo, karena kursi-kursi di sekitar mereka nyaris penuh.Dua orang cewek, sepertinya masih kuliah, berbisik-bisik ketika melintasi tempat Jo dan Gemma duduk. Mereka bukan cewek pertama yang sengaja melakukan hal-hal konyol untuk menarik perhatian.Perhatian siapa?Siapa lagi kalau bukan Jo."Kau hanya iri, itu saja. Tidak ada laki-laki yang bertingkah seperti itu saat melihatmu.""Jika ada, malah mengerikan."Gemma meng
Read more
DMCA.com Protection Status