Sang Dewa Perang

Sang Dewa Perang

Oleh:  Kata Memecah Venice  Baru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9.1
Belum ada penilaian
2008Bab
2.9MDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Ayahnya menghilang; Saudara lelaki satu-satunya mati bunuh diri. Thomas Mayo, Sang Dewa Perang, sudah kembali dan bersumpah akan membalaskan dendam keluarganya…

Lihat lebih banyak
Sang Dewa Perang Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
2008 Bab
Bab 1
Angin musim gugur terasa dingin di awal September. Dedaunan kering berjatuhan di bahu lebarnya. Thomas Mayo berdiri di bawah pohon tua dan sedang menatap gedung kantor Shalom Technology. 'Kakak, mereka bekerja sama menjebakku. Aku tak bisa lagi melawan mereka.’ Dua bulan sebelumnya, rantai modal Shalom Technology telah putus. Pemimpinnya, Scott Mayo dibebani utang yang sangat besar; 1,2 miliar dolar. Akibatnya, perusahaan itu digadaikan ke Darcy Davis dari Skyworld Enterprise.‘Kakak, aku tak tahan lagi. Aku minta maaf karena pergi terlebih dahulu.’Pada tengah malam, Scott melompat dari atap gedung dan tewas di tempat. Seorang pemuda berbakat dari dunia korporat pada zaman ini tewas begitu saja. Setiap orang dengan jelas tahu masalahnya. Arena bisnis itu layaknya medan pertempuran. Scott hanyalah sosok korban yang menyedihkan.Dalam hembusan angin dingin, Thomas menarik napas dalam-dalam dan mengangkat kepalanya untuk melihat bintang-bintang yang bersinar di langit.“Scott, aku mi
Baca selengkapnya
Bab 2
Di atas panggung, Darcy mengangkat kepalanya sambil memandang jijik ke arah Thomas. Dia menikmati perasaan dimana dirinya memandang rendah orang dari posisi superior. Namun, ekspresi Thomas tetap tidak berubah.Darcy salah mengira kalau Thomas tidak berani berbicara karena takut, jadi dia memprovokasi Thomas. “Maaf, aku adalah orang yang sangat lugas. Jika aku telah melukai martabatmu yang rapuh, aku benar-benar minta maaf.“Sebenarnya, aku tahu kenapa kau ada di sini hari ini. Kau hanya ingin memeras uang dariku karena kematian adikmu, kan?“Aku telah melihat banyak orang sepertimu.”Darcy mengangkat bahu dan menambahkan, “Meskipun begitu, aku masih bisa memberimu uang selama kau bersedia mengatakan kalau 'Scott Mayo memang pantas mati' tiga kali di depan semua orang. Aku akan setuju untuk memberimu ... hmm ... lima ribu dolar. Bagaimana?" Ini adalah sebuah penghinaan.Ini benar-benar sebuah penghinaan!Orang-orang di bawah panggung tertawa. Semua orang tertawa begitu keras sehingga
Baca selengkapnya
Bab 3
Samson menyunggingkan senyum. Dia mengerti apa yang Thomas rencanakan.“Ngomong-ngomong, Bos, aku baru saja mendapatkan pemberitahuan dari atasan.“Dia bilang kalau tiga distrik: Shaol, Desert Cele dan Oceania Hail akan bergabung untuk membentuk distrik Southland, dan kau akan menjadi panglima yang bertanggung jawab atas ini. "Bos, ini adalah posisi yang menguntungkan!"Thomas melihat ke luar jendela dan berkata, “Aku tidak lagi tertarik dengan hal semacam ini. Ayo pergi." "Hah? Ke mana?" Thomas berpikir sebentar, dan berkata, "Karena kita ada di sini, ayo pergi ke kampung halamanku." Setengah jam kemudian, mobil melambat. Setelah Samson pergi, Thomas berjalan ke distrik terkemuka dan sampai di vila bertingkat yang agak kuno. Dia mengetuk pintu beberapa kali."Siapa di sana?"Seorang wanita paruh baya membuka pintu. Dia adalah ibu mertua Thomas, Felicia Musk. Dia tertegun selama beberapa detik setelah melihat Thomas. Kemudian, dia berkata dengan nada gembira, "Oh, Thomas, kapan kau
Baca selengkapnya
Bab 4
Setelah Thomas dan Emma memasuki lobi hotel, keduanya melihat meja perjamuan fine dining telah tertata rapi. Orang-orang yang lalu lalang mengenakan pakaian mewah dengan perhiasan yang sama mewahnya. Mereka memegang gelas anggur sambil berbincang sesuatu yang menyenangkan.Emma membawa Thomas ke meja di tengah aula dan tersenyum ketika dia berbicara dengan seorang lelaki tua. "Kakek!"Orang tua itu adalah kepala keluarga Hill saat ini, Richard Hill.Dia menyipitkan matanya. “Halo, Emma. Kenapa baru sampai sekarang? Aku sudah sengsara menunggumu. Ayo, duduk.”Ketika dia berbalik, dia melihat Thomas di samping Emma. "Siapa ini?" Dia bertanya dengan bingung.Emma menunduk dan menjawab dengan kurang percaya diri, "Dia suamiku, Thomas Mayo.""Oh?"Richard menilai Thomas sebelum dia berkata, “Kudengar kau menjadi tentara. Aku tidak menyangka kau kembali hari ini. Ayo, duduk.”“Terima kasih, Kakek.”Begitu Thomas duduk, Harvard Hill dengan sinis menanyainya dari seberang meja. "Thomas, apa
Baca selengkapnya
Bab 5
Orang-orang saling berpandangan.'Dewa Perang? Pangkat macam apa itu?' Donald berpura-pura batuk dan kemudian berbicara, "Aku tidak tahu banyak tentang situasi di pantai barat. Namun, aku tahu semua pangkat militer. Tidak ada pangkat seperti "Dewa Perang". Thomas, berhenti mengarang cerita.”Saat itu, banyak orang merasa lega mendengarnya.“Jadi, bagaimanapun juga, ini adalah cerita karangan. Tidak heran kalau aku belum pernah mendengarnya. ”"Dia seharusnya membuat cerita yang lebih bisa dipercaya.” “Sebuah posisi yang bahkan Donald tidak tahu. Pasti tidak ada posisi semacam itu.” Emma dihadapkan dengan umpatan orang-orang. Dia merasa malu dan ingin menggali lubang untuk bersembunyi di dalamnya.Sementara itu, Thomas sangat santai. Dia berkata nada santai, "Mungkin, kau belum berhubungan dengan dia, itu sebabnya kau belum pernah mendengarnya."Orang-orang terdiam. Lalu, seketika ada keributan. Mereka menatap Thomas seolah-olah mereka sedang melihat orang bodoh. Orang ini sungguh ke
Baca selengkapnya
Bab 6
Saat makan malam keluarga, banyak orang terus menyanjung Donald, satu per satu, dan mereka sangatlah ramah.Sementara itu, sejak awal hingga akhir, tidak ada seorang pun yang melihat Thomas dengan baik.Emma, ​​yang duduk di sampingnya, juga merasa terhina. Beberapa kali dia ingin berdiri dan pergi karena dia sungguh malu berada di tempat itu lagi.Pada saat itu, ponsel Thomas berdering."Permisi, aku harus menjawab panggilan ini."Setelah Thomas keluar dari ruangan, dia menjawab panggilan itu, dan suara Simson terdengar dari ujung telepon.“Bos, kami sudah menerima dokumennya. Mereka ingin Anda mengambil alih jabatan panglima dan bertanggung jawab atas tiga kota. Anda harus menghadiri upacara suksesi.”“Kamu tahu aku. Aku tidak suka formalitas seperti ini. Aku dapat mengambil alih jabatan panglima penanggung jawab, tetapi batalkan saja upacara suksesinya,” jawab Thomas acuh tak acuh. “Hmm … Itu sudah diatur oleh atasan kita. Bos, ini tidak mudah untuk dibatalkan.”“Kalau beg
Baca selengkapnya
Bab 7
Di malam hari, Thomas dan Emma memasuki kamar tidur.Meskipun keduanya adalah suami istri dan seharusnya tidur di ranjang yang sama di dalam kamar, keduanya seperti orang asing. Oleh karena itu, mereka tiba-tiba merasa canggung harus tidur di ranjang yang sama. Terutama Emma. Dia belum pernah tidur bersama wanita lain, apalagi pria yang baru dia kenal, meskipun pria itu adalah suaminya.Thomas tidak membuatnya kesulitan. Dia langsung mengambil selimut dan melebarkannya di lantai."Kau sedang apa?" tanya Emma."Kau tidur di tempat tidur, aku tidur di lantai."“Ini ….”“Kau tidak perlu merasa kasihan padaku. Selama ini aku sudah terbiasa tidur di lantai.”Emma tidak banyak bicara. Dia mematikan lampu dan menaiki tempat tidur.Dalam kegelapan, Thomas tiba-tiba berkata, "Maaf."Emma gemetar. Dia tidak pernah mengira Thomas akan mengatakan itu padanya.Thomas melanjutkan, “Selama bertahun-tahun, aku selalu merasa kasihan pada dua orang. Salah satunya adalah adikku, dan yang satu
Baca selengkapnya
Bab 8
Mereka secara berurutan berjalan menuju pintu masuk utama gedung dengan rapi.Ada beberapa lusin penjaga di pintu masuk utama, dan para penjaga di barisan paling dalam bersenjata. Itu adalah tanda jika orang-orang yang pergi ke sana hari ini berstatus tinggi.Donald dan dua orang lainnya mendekati pintu masuk gedung, diikuti oleh Thomas dan Emma.Beberapa dari mereka dihentikan oleh para penjaga di pintu pada saat yang bersamaan.“Tolong tunjukkan kartu identitas Anda.”Harvard dengan arogan memberikan kartu identitasnya kepada si penjaga sebelum dia berbalik dan menatap Thomas. “Perhatikan baik-baik, ini bukan tempat yang bisa dikunjungi orang-orang sepertimu.”Penjaga itu memindai kartu identitasnya dengan mesin, dan tanda "X" merah besar yang sangat terang langsung ditampilkan.Penjaga bersenjata segera datang dan menghentikan Harvard.Harvard sangat ketakutan sehingga kulitnya menjadi pucat. “Hei, apa yang terjadi?”Penjaga itu langsung mengembalikan kartu identitasnya. “A
Baca selengkapnya
Bab 9
Mereka berdua sampai di tempat acara. Sekilas, mereka melihat Johnson membawa kotak hadiah. Pria itu mondar-mandir dan tampak cemas."Ayah." Emma berjalan mendekatinya.“Kenapa kalian di sini?” Johnson terkejut.Emma menunjuk Thomas, dan berkata, “Dia meminta teman-temannya untuk memberi kami dua undangan. Jadi, kami datang untuk melihat-lihat.”"Dia bisa mendapatkan undangan?"Thomas tersenyum sambil berkata, “Temanku saat aku masih menjadi tentara di Pantai Barat adalah teman baik penyelenggara upacara ini. Oleh karena itu, dia memberi aku dua undangan lewat orang dalam.” Johnson mengangguk dan berkata, "Jadi begitu."Emma bertanya, "Ayah, kenapa Ayah mondar-mandir di sini?" Johnson mengerutkan kening dalam-dalam, dan berkata, “Ini karena hadiah. Aku sudah membeli bir Rhapsody. Tapi, masalahnya aku tidak berani memberikannya. Apa kamu tahu kalau harga bir ini cuma tiga dolar enam puluh sen per botolnya? Apa benar memberikan bir berkualitas rendah seperti ini?”Thomas berka
Baca selengkapnya
Bab 10
Samson berbicara dengan penuh semangat untuk waktu yang lama di atas panggung. Setelah pria muda itu akhirnya menyelesaikan pidatonya, dia meninggalkan panggung.Pembawa acara memegang mikrofon dan berkata kepada semua orang di aula, “Acara hari ini telah berakhir. Silakan keluar dengan tertib.”Pembawa acara itu meminta mereka untuk pergi, tetapi banyak orang masih berada di kursi mereka.Setelah sekelompok orang pergi, seorang pria naik ke atas panggung membawa hadiah. Dia terkekeh sambil berkata kepada pembawa acara, “Aku Rayden Haynes, General Manager Victory Heavy Industry. Aku sudah menyiapkan hadiah kecil untuk menyambut panglima. Tolong berikan ini pada beliau.”Dia membuka kotak itu, dan sebuah akar ginseng yang telah berumur sepuluh tahun terlihat. Ginseng itu sangat mahal!Pembawa acara mengangguk. "Jangan khawatir, aku akan memberikannya pada beliau.""Terima kasih banyak."Begitu Raiden berjalan menuruni panggung, pria kedua berjalan menaiki panggung. Orang-orang na
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status