YANG MISKIN ITU KAMU, MAS!

YANG MISKIN ITU KAMU, MAS!

Oleh:  Ariesa Yudistira  Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
9.9
Belum ada penilaian
30Bab
195.4KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Najwa, wanita yang selalu direndahkan oleh keluarga suaminya, diam-diam memiliki bakat yang luar biasa, hingga bisa menjadikan dirinya kaya tanpa sepengetahuan mereka. Saat pernikahan mereka berujung pengkhianatan, ditambah keluarga suami tak berhenti meremehkan, akankah dia masih bertahan?

Lihat lebih banyak
YANG MISKIN ITU KAMU, MAS! Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
30 Bab
Istri Rasa Pembantu
"Wa, cepet bawa minumannya ke sini! Para tamu sebentar lagi datang!" titah Bu Ratno, ibu mertuaku."Iya, Buk," jawabku yang dari tadi sibuk mengangkat tumpukan piring untuk hidangan para tamu.Hari ini adalah hari pertunangan Risma, adik iparku. Istilah orang Jawa "sisetan". Katanya dia akan menikah dengan pengusaha properti kaya raya. Aku sedari subuh sibuk membantu Bik Lastri, ART kami, menyiapkan berbagai hidangan untuk menyambut kedatangan mereka.Aku bergegas mengambil sewadah besar penuh sop buah yang sudah kusiapkan, lalu membawanya ke depan. Berulang kali aku menyeka keringat, karena belum beristirahat sedetikpun dari subuh."Jangan lupa, gelasnya juga kamu taruh sini, ya?" perintah ibu mertuaku lagi.Aku mengangguk, lalu bergegas ke belakang untuk mengambil yang dia minta. Dalam perjalanan ke dapur, kulihat Mas Indra, suamiku, sudah berpakaian rapi bersiap menyambut tamu yang datang."Dek, Risma manggil kamu, tuh. Butuh bantuan dand
Baca selengkapnya
Batas Kesabaran
"Ini, Mas. Mbak Wawa nyuri-nyuri pandang sama Davian. Jangan-jangan ada maksud lagi," Risma mengadu."Bener itu, Dek?" tanya Mas Indra lagi."Astaghfirullah, enggak lah Mas. Mungkin dia melihatku karena seperti mengenalku, karena dia teman SMA ku dulu," aku mencoba menjelaskan."Bohong! Gak mungkin orang sekaya Davian pernah satu kelas sama Embak!" sahut Risma.Ya Allah, aku harus gimana lagi menjelaskan pada mereka? Akhirnya aku diam saja, membiarkan mereka berkata apapun padaku."Mulai sekarang dia akan sering datang ke sini. Awas saja kalau Embak sampek berani muncul di hadapan dia!" ucap Risma lagi sambil berlalu pergi."Mas gak nyangka kamu begitu, Dek. Apa kurangnya Mas sampek kamu tega melirik pria lain?" ucap Mas Indra, sebelum pergi masuk ke dalam kamar.Aku hanya diam mendengar kata-katanya. Meskipun sudah terbiasa mendapat perlakuan seperti ini, tapi kali ini sungguh menyakitkan."Najwa, cepat bereskan semuanya
Baca selengkapnya
Calon Istri?
Bu Ratno, ibu mertuaku, langsung berdiri begitu melihat Pak Tomo datang, begitu juga dengan Risma. Aku melihat Mas Indra masih asyik mengobrol dengan wanita itu, saking asyiknya sampai tidak menyadari kedatangan kami."Selamat siang, Pak Tomo," sapa Ibu mertuaku ramah.Risma juga langsung mencium tangan calon Papa mertuanya itu."Selamat siang, Bu Ratno. Senang bertemu dengan Anda hari ini. Mohon maaf kemarin saya tidak bisa hadir," jawab Pak Tomo."Tidak apa-apa, Pak," ucap Ibu mertuaku masih dengan keramah tamahannya. "Saya tahu Bapak pasti sibuk."Sesaat kemudian dia tampak melihat ke arahku. Risma juga terlihat memperhatikanku dari ujung kepala hingga kaki. Dadaku berdesir, mungkinkah mereka mengenaliku?"Loh, ini siapa, Pak?" tanya Ibu mertuaku sambil menunjuk ke arahku.Alhamdulillah, ternyata mereka tidak mengenaliku. Itu karena mereka tak pernah sekalipun melihat aku berdandan. Yang mereka lihat setiap hari hanya perempuan kuc
Baca selengkapnya
Bertahan Untuk Menang
Sesampainya di rumah aku segera menekan bel pintu. Tak berapa lama Bik Lastri membukakannya untukku."Assalamualaikum, Bik," ucapku sambil bergegas masuk."Waalaikumussalam," jawab Bik Lastri sambil memperhatikanku."Ini, Bik, aku bawa makanan buat Bibik. Bibik angetin dulu, ya, sebelum di makan?""Loh, ternyata Non Najwa?" tanya Bik Lastri.Oh, iya, aku lupa belum mengganti pakaian dan menghapus make upku. Aku harus cepat-cepat melakukannya sebelum Mas Indra dan keluarganya pulang."Iya, Bik. Ini Najwa," jawabku sambil tersenyum."Masya Allah, Non Najwa! Bibik Sampek nggak ngenalin. Cantik banget, Non! Bibik kira artis dari mana tadi yang datang," ucap Bik Lastri dengan ekspresi wajah yang lucu.Aku tertawa. Lucu banget Bik Lastri ini."Cepat bawa ke dapur semua makanannya, Bik, jangan Sampek ketahuan," ucapku kemudian."Siap, Non," jawab Bik Lastri."Oh, iya, Bik," aku merogoh tas dan mengeluarkan sejumla
Baca selengkapnya
Maksud Terselubung
"Mas Indra bangkrut? Sejak kapan, Bik?" tanyaku sambil menatap Bik Lastri."Sudah lama saya dengarnya, Non. Bibik kira Non Wawa tahu," ucap Bik Lastri lagi. "Makanya Bu Ratno berusaha biar Non Risma bisa nikah sama orang kaya. Mungkin ada maksud ya, Non?"Aku terdiam seketika. Mas Indra bangkrut, tapi aku tak tahu apa-apa. Selama ini keluarga ini terlihat baik-baik saja. Bahkan sepertinya mereka bertambah sibuk saja. Mungkinkah mereka berencana memanfaatkan keluarga Davian? Ah, aku harus mencari tahu.Tiba-tiba gawaiku berdering. Telpon dari pak Tomo. Aku segera mengangkatnya."Assalamualaikum.""Waalaikumussalam, maaf Nak Najwa, menghubungi kamu selarut ini," ucap Pak Tomo dari seberang telpon."Tidak apa-apa, Pak. Ada yang bisa saya bantu?""Saya ada proyek baru, agak mendadak. Besok saya mau ajak kamu melihat tempatnya, biar kamu bisa memilih desain yang cocok dengan tempatnya," ucap Pak Tomo."Baik, Pak, saya akan usahakan,
Baca selengkapnya
Tawaran Tak Terduga
Astaghfirullah, aku harap yang kudengar ini salah. Menikahiku hanya untuk menjadikanku pembantu, tidak mengakui ku sebagai istri di depan orang lain, bahkan mendua di belakangku, itu semua masih bisa kuterima. Tapi menipu kedua orang tuaku untuk kepentingan pribadi mereka, ini sudah keterlaluan!"Jadi, mereka tega menipu Bapak untuk menjual tanah itu?" tanyaku dengan suara parau."Bapak benar-benar tidak tahu mereka berbohong. Bapak pikir kamu benar-benar sakit," ucap Bapak."Ternyata begini kelakuan suamimu dan keluarganya, Wawa? Ibu gak ikhlas! Kamu harus minta pisah!" ucap Ibuk penuh emosi.Aku mengelus pundak Ibuk, mencoba menenangkannya."Sabar, Buk," ucapku pelan.Aku tak mampu mengatakan apa yang mereka lakukan padaku selama ini. Jika aku jujur, itu akan mematahkan hati mereka. Mereka pasti akan merasakan lebih sakit dari apa yang kurasakan."Kita laporkan saja mereka pada polisi!" sahut Bapak.Aku membuang napas.Baca selengkapnya
POV Indra. Rencana terselubung
YANG MISKIN ITU KAMU, MAS!Part.8POV Indra"Apa? Apa Ibuk nggak salah dengar? Kamu mau menikahi perempuan itu?" tanya Ibuk ketika aku membawa Najwa pulang ke rumah untuk kuperkenalkan pada Ibu dan adikku.Aku cepat-cepat menjauhkan Ibuk dari Najwa yang sedang duduk di ruang tamu, agar dia tidak mendengar pembicaraan kami."Indra cinta sama dia, Buk," ucapku.Ibuk seketika menatap tajam padaku saat mendengarnya."Dengar ya, Indra. Bisnis keluarga kita sedang dalam masa-masa sulit. Ibu maunya kamu menikah sama Susan, anak teman Ibuk, biar mereka bisa membantu bisnis kita! Bukan malah menikah sama mahasiswi yang belum jelas masa depannya. Anak orang kere, lagi!" ucap Ibuku panjang lebar."Tapi, Buk....""Gak ada tapi-tapian! Pokoknya Ibuk gak setuju! Titik!"Aku membuang napas, lalu mengarahkan pandangan pada Najwa, gadis sederhana yang sudah setahun ini kukenal.Sesaat kemudian, Risma, adikku, pulang dari sh
Baca selengkapnya
Memilih Pergi
Mama langsung berdiri mendengar tawaran Pak Tomo untukku."Tidak mungkin Mbak Wawa jadi model, Om! Lihat saja penampilannya! Dari sudut manapun dia gak cocok!" protesnya, terlihat amat kesal."Benar, Pak Tomo. Lagi pula dia cuma ART, sama sekali tidak cocok untuk model," ucap Ibu mertuaku, masih mencoba menghilangkan keterkejutannya. "Gadis secantik Risma saja Bapak tolak, kenapa memilih perempuan seperti ini untuk jadi model?"Pak Tomo tersenyum."Saya memilih dia bukannya tanpa alasan. Saya ingin meluncurkan produk yang sesuai untuk semua kalangan, termasuk menengah ke bawah, dan Mbak Wawa sangat cocok sebagai model saya.""Benar itu, Pa," sahut Davian. "Sejak pertama melihat mbak Wawa, aku sudah tahu dia sesuai untuk model Papa. Wajahnya yang natural masih terlihat bersinar meskipun hanya memakai daster dan tanpa polesan make up."Muka Risma semakin memerah karena menahan marah."Kok kamu jadi ikut muji dia setinggi langit sih, Yan
Baca selengkapnya
Buah Manis
"Non Wawa beneran mau pergi?" tanya Bik Lastri saat aku memasukkan beberapa barang ke dalam tas slempangku. Wajahnya kelihatan sangat sedih. "Bibik mau ikut, Non."Aku tersenyum, lalu memegang pundak Bik Lastri."Setelah mendapatkan tempat tinggal, aku akan kesini lagi untuk mengambil barang-barangku, Bik. Juga untuk menjemput Bibik," ucapku.Mata Bik Lastri seketika berbinar."Benarkah itu, Non?" tanyanya.Aku tersenyum, seraya mengangguk."Bibik sabar dulu, ya?" ucapku lagi."Iya, Non. Bibik akan nunggu Non Wawa jemput Bibik," jawabnya penuh harap.Setelah memasukkan beberapa barang, khususnya gawai dan kartu ATMku ke dalam tas, aku bergegas pergi keluar kamar. Mas Indra langsung mendekatiku begitu melihatku."Kamu yakin mau pergi, Najwa? Kamu mau ke mana? Pulang ke rumah orang tuamu?" tanyanya sok perhatian.Aku hanya diam tak menjawab, bahkan menatapnya pun tidak."Sudah, biarkan saja dia pergi, Indra!"
Baca selengkapnya
Keberuntungan
Mata Mas Indra membulat. Tangannya terlihat gemetar memegang surat gugatan yang kuberikan padanya. Dia mungkin tak menyangka aku berani menggugat cerai dia, karena sebelumnya aku tidak pernah berani membantah."Sombong, kamu, Najwa! Belum jadi apa-apa sudah belagu!" ucap Ibu mertuaku. "Sudahlah Indra, ceraikan saja dia!"Mas Indra menatap nanar padaku."Kamu benar-benar ingin pisah dari, Mas, Dek?" tanyanya.Aku tersenyum miris."Aku sudah tidak punya alasan untuk bertahan, Mas. Bukankah ini yang kamu inginkan?  Sekarang kau bisa bebas mengaku single pada semua orang," ucapku dingin."Dek, kan Mas sudah memberitahumu alasannya," ucapnya sambil mencoba memegang tanganku.Aku menepis tangannya, lalu mundur selangkah menjauh darinya. Aku tak sudi lagi disentuh oleh seorang penipu sekaligus pengkhianat."Apapun alasannya, jika seorang suami secara sadar mengaku single di depan orang lain, artinya kau sudah menjatuhkan talak pa
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status