Membalas Kesombongan Mantan

Membalas Kesombongan Mantan

Oleh:  Pena_yuni  Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
9.7
Belum ada penilaian
408Bab
921.5KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Harta, tahta dan wanita selalu menjadi bumerang bagi pria yang tidak bisa mengendalikan nafsu duniawi. Hal ini juga yang terjadi pada kisah Alina dan suaminya yang telah tergoda oleh harta dan wanita. Seorang gadis kaya bernama Amira masuk ke dalam rumah tangga mereka dengan menawarkan sebongkah berlian untuk sang suami. Tentu saja Haikal terbuai dengan keindahan paras serta kemewahan yang Amira suguhkan. Hingga akhirnya, Haikal lupa diri dengan statusnya yang sudah memiliki istri dan anak. Tidak cukup sampai di situ. Dengan pongahnya Haikal membanggakan Amira di depan Alina. Secara terang-terangan Haikal mengakui Amira lebih memiliki segalanya dibandingkan Alina. Merasa sangat terluka dengan perlakuan suami dan keluarganya, Alina pun memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang tidak sehat itu. Ia memilih pergi dari Haikal dan kembali pada keluarga yang dulu pernah dia tinggalkan saat memutuskan menikah dengan Haikal. Bersama keluarganya, Alina merencanakan suatu pembalasan yang akan membuat Haikal menyesal seumur hidup.

Lihat lebih banyak
Membalas Kesombongan Mantan Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
408 Bab
Bab 1
"Jangan bawa apa pun dari rumah ini!" Kaki yang sudah hampir menginjak tanah harus kutarik kembali setelah mendengar seseorang berteriak di belakangku. Aku menoleh. Wajah marah ibu mertua terpampang dia sana. Ia mendekatiku, merebut tas besar berisikan pakaianku dan Saffa. "Itu bajuku, Bu.""Tapi, ini dibeli menggunakan uang Haikal. Aku tidak ridho, kamu membawa barang yang dibeli oleh uang putraku!" sergahnya seraya merebut boneka yang tengah dipeluk Saffa. Putriku terhuyung, ia jatuh tersungkur karena kasarnya tarikan tangan ibu mertua. Aku langsung mengambil tubuh mungil putriku yang masih berusia tiga tahun itu. Saffa menangis, ia menginginkan boneka kesayangannya kembali. Namun, ibu mertua menutup mata. Ia sama sekali tidak tersentuh dengan rengekan cucunya yang meronta ingin mengambil barang miliknya. Hatinya mati karena rasa benci. Amarah sudah menutupi rasa kasih yang harusnya dia berikan kepada anakku."Nenek, Nenek," rengek Saffa berusaha menjangkau boneka yang kini sud
Baca selengkapnya
Bab 2
"Kita ke mana?" "Ke rumah lah, masa iya ke panti jompo," ucapku ketus. "Ke rumah Bapak? Emang masih akan diterima?" Aku diam seribu bahasa. Pertanyaan yang dilontarkan Adi membuatku memijit kepala yang sedikit cenat-cenut. Benar apa kata Adi. Apakah seorang Alina Martadinata masih diterima di rumah itu? Rumah orang tua yang sengaja ditinggalkan karena lebih memilih seorang pria yang dicintainya. Ah, otakku seperti tidak berfungsi. Apa yang akan Papa katakan ketika nanti aku pulang. Tertawa. Iya, mereka pasti akan menertawakan kemalanganku. "Jadi, kita akan ke mana, Non? Tetap ke rumah Bapak?" Adi mengulangi pertanyaan yang sama. "Tidak.""Lalu?" "Kita ke ... ah, aku tidak tahu, Adi. Aku tidak punya tempat untuk tinggal sekarang ini. Jangankan rumah, baju pun aku tidak memilikinya. Yang aku punya hanya ... Saffa," ujarku seraya memeluk tubuh putriku. Adi mengembuskan napas kasar. Supir pribadi yang selalu setia mengabdi itu tidak lagi bertanya. Ia tetap menjalankan roda empa
Baca selengkapnya
Bab 3
"Bangun, Al. Ayo, kita masuk," ujar Mama menarik kedua pundakku. Bingung. Sikap papa yang enggan bicara padaku membuat diri ini merasa tidak pantas untuk ikut masuk ke dalam rumah. Namun, untuk pergi pun aku tidak bisa. Papa sudah membawa Saffa ke dalam sana. Tidak mungkin aku berteriak meminta Saffa dari papa. Untuk memaksa agar Papa bicara padaku pun, aku tidak punya hak. Mulut-mulut Papa, mana bisa aku memaksakanya. Ah, aku benar-benar bingung."Alina, ayo!" Mama menarik kembali tanganku. "Tapi, Mah. Papa tidak bicara. Dia tidak memaafkan Alina.""Ck'. Lima tahun berpisah, kamu sudah lupa dengan karakter papamu? Apa kamu tidak mendengar apa yang tadi dia katakan?"Aku menggelengkan kepala tanda tidak paham. "Papa sudah menyuruh anak buahnya menyelidiki mantan suamimu, itu artinya dia akan membuat perhitungan dengan si Haikal itu. Sudah, ayo cepetan masuk," titah Mama lagi. Aku mulai bergerak. Berdiri dan melangkahkan kaki mengikuti Mama. Mata ini melihat ke sekeliling rumah.
Baca selengkapnya
Bab 4
"Nenek bilang jangan, ya jangan. Bandel banget, sih gak bisa dibilangin!"Aku yang tengah mencuci piring di dapur, segera meninggalkan pekerjaanku saat mendengar suara tangis Saffa dengan diiringi bentakan ibu. 'Entah apa yang diperbuat Saffa hingga membuat neneknya itu marah. Ah, paling juga nyenggol barang, atau mungkin Saffa lari-lari yang kemudian tidak sengaja menginjak kaki ibu," pikirku. Namanya juga anak-anak, pasti ada saja kelakuan dia yang membuat orang dewasa harus memakluminya. Tapi, tidak untuk ibu mertuaku itu. Sekecil apa pun kesalahan Saffa, selalu dipandang dengan serius. Dibesar-besarkan hingga tidak jarang anakku dicubit sampai menangis. "Ih ... disuruh diem, juga. Diem, jangan nangis terus!" bentak ibu lagi seraya menggiring Saffa dengan kasar hingga anakku tersungkur ke lantai. "Ya Allah, Ibu. Kenapa Saffa didorong gitu, sih?" Segera aku mengambil putriku dan mengusap kedua pipinya yang basah oleh air mata. "Didorong gimana? Orang anakmu jatuh sendiri, juga
Baca selengkapnya
Bab 5
"Tetep mau ke pabrik?" tanya Mama saat kami tengah menikmati sarapan pagi. Aku mengangguk seraya menyuapkan nasi ke dalam mulut dengan cepat. Pagi ini aku bangun kesiangan. Bukan karena saking nyenyaknya tidur di kasur besar, tapi karena Saffa yang merengek minta pulang. Ia tidak bisa tidur karena tidak ada boneka kesayangannya yang diambil ibu waktu itu. Mama dan papa bergantian membujuk bahkan menggendong putriku, hingga akhirnya Saffa bisa tidur karena sudah terlalu lelah menangis. "Kenapa harus ke pabrik, sih, Al. Sudahlah, mendingan kita jalan-jalan saja, yuk. Belanja, bermain dan membeli boneka untuk Saffa," tutur Mama membujuk. Namun, keputusanku sudah bulat. Aku akan tetap pergi ke pabrik untuk bekerja. Menjalankan misi, yang semalam sudah aku bahas dengan papa. "Tidak bisa, Mah. Alina harus tetap bekerja. Dan ... titip Saffa, ya, Mah?" ujarku melirik pada putri kecil yang ikut sarapan bersama kami. "Gak usah dititipin juga, Saffa sudah jadi tanggung jawab kami, Al. Per
Baca selengkapnya
Bab 6
"Huft, ternyata ngerjain orang itu menegangkan," ujarku langsung menghenyakkan bokong pada kursi. Membuka tutup botol, menegak air minum yang ada di dalamnya. Satu persatu orang-orang mulai berdatangan menghampiri tempat duduk mereka masih-masing. Bisa aku dengar jika mereka datang seraya membahas apa yang baru saja terjadi di toilet yang letaknya berada di dekat grup A. Sedangkan aku, berada di grup G dengan ketua grup yang tak lain adalah mantan suamiku sendiri. Ih, malas sekali harus bertemu setiap hari dengannya. Bersikap santun pada pria yang sudah menggoreskan banyak luka dalam hidupku. "Lin, kamu berantem dengan Mbak Amira?" Aku menoleh pada teman satu grup yang langsung menghampiri mejaku. "Ih, berantem apaan?" ujarku mengerutkan kening, mengedikkan bahu."Itu, di grup A rame pada ngomongin kamu. Katanya kamu jorokin Qiusi mereka sampai bokongnya basah kena air di toilet," ujar Nela lagi. Aku menarik tangan temanku itu agar merendahkan tubuhnya. Berbisik di telinga dia
Baca selengkapnya
Bab 7
"Huhu ... Saffa." Aku memeluk tubuh mungil putriku dengan sangat erat. Jantung ini seakan berhenti berdetak kala sepeda motor tadi melesat cepat menghadirkan angin yang menyapu wajahku. Bayangan akan kehilangan putri semata wayangku sudah terpampang jelas. Namun, Tuhan berkehandak lain membuat bayangan menyeramkan itu hilang berganti dengan rasa syukur yang tiada tara."Kamu, tuh kalau sama anak, tangannya jangan dilepasin. Untung saja aku bisa menarik dia, kalau tidak? Mati, tuh anak!" ujar Mbak Sum yang tadi menolong Saffa. Wanita yang dikenal paling bengal di pabrik itu berujar kesal padaku. Bagiamana tidak, dia harus jatuh terjengkang ke belakang seraya memeluk tubuh Saffa demi menghindari sepeda motor tadi.Aku tidak menjawab apa-apa. Masih duduk di tanah seraya terus memeluk putriku menciumi pucuk kepalanya berulang kali. "Terima kasih, ya sudah menolong cucu saya," ujar Mama terdengar suaranya. Orang-orang berkerumun melihat diri ini yang menangis bersimpuh masih enggan me
Baca selengkapnya
Bab 8
Permainan hari ini sepertinya sudah cukup. Aku mengambil ponsel, menelepon supir mobil derek yang membawa mobil Mas Haikal. "Pak, berhenti, Pak. Ternyata itu bukan mobil suami saya. Mobil suami saya sudah diambil sama karyawan bengkel.""Lah, si Ibu gimana, sih? Katanya bener itu mobilnya. Terus ini yang saya bawa mobil siapa?" tanyanya panik. "Punya orang. Itu pemiliknya sampai ngejar-ngejar di belakang.""Aduuuh, si Ibu bikin masalah saja, kalau orangnya minta ganti rugi gimana, Bu?" "Tentang, Pak. Saya yang tangguh jawab. Biaya angkut mobil itu juga akan saya bayar dua kali lipat. Bapak gak usah khawatir."Sambungan telepon terputus. Mobil derek itu berhenti dan si supir keluar dari mobilnya. Perdebatan antara Mas Haikal dengan supir mobil derek pun terjadi. Tapi, untungnya si supir tidak mengatakan diriku sebagai dalang dari masalah ini. Aku sudah mewanti-wanti dia dan akan aku beri imbalan yang setimpal untuk kerja sama yang menyenangkan ini. Pak Yadi—supir Papa sudah datang.
Baca selengkapnya
Bab 9
Gelak tawa laki-laki terdengar begitu menyenangkan saat kaki ini mulai mendekati ruang tamu. Sepertinya, orang yang ingin bertemu denganku bukanlah orang baru untuk Papa. Apa mungkin rekan bisnis Papa? Lalu, kenapa dia mau menemuiku? Seingatku, aku tidak mengenal siapa-siapa saja yang berbisnis dengan Papa. Dekat, apalagi. Sangat tidak sama sekali. Mungkinkah temanku? Rasanya tidak mungkin temanku bisa membuat Papa tertawa lepas seperti itu. Kepulanganku ke rumah ini pun tidak diketahui mereka. "Pak Gunawan. Apa kabar, Pak?" Langkahku terhenti saat Mama menyebutkan satu nama yang tidak asing di telingaku. Kakiku refleks berhenti dan mematung di belakang sofa yang kosong. Gunawan. Aku pernah mendengar nama itu disebutkan Papa beberapa kali di rumah ini. Yang aku tahu, dia adalah seorang pengusaha textile yang tak lain adalah sahabat Papa juga. Pak Gunawan jugalah yang waktu itu menawarkan perjodohan antara aku dan putranya yang sampai saat ini belum aku ketahui. Penolakan dari
Baca selengkapnya
Bab 10
Tiga puluh menit berlalu tangis Saffa belum juga mereda. Suaranya sudah sangat parau dengan keringat membanjiri wajahnya. Kalau sudah begini, tidak ada cara lain selain pergi untuk mendapatkan apa yang Saffa inginkan. Saffa akan kuat untuk menahan tidak jajan atau tidak makan. Itu sudah biasa. Tapi, untuk pisah lama jauh dari bonekanya, ya seperti sekarang ini. Mengamuk tak tahu waktu. Salah aku juga, sih kemarin menjanjikan akan segera memberikan dia yang baru. Tapi, kejadian di depan pabrik tadi sudah menyita waktuku untuk pergi ke toko boneka. "Dah, yu beli, yuk." Bang Aldi sudah membawa kunci mobil miliknya. Dia mengangkat tubuh Saffa yang terkulai di lantai. Tidak ada perlawan dari putriku. Lama menangis membuat dia kelelahan dan pasrah digendong oleh pamannya itu. Di dalam mobil, aku memperbaiki rambut Saffa yang berantakan. Mengusap wajahnya yang penuh air mata dengan rasa yang entah mengapa membuatku ingin menangis. Seharusnya, seorang ayah ada di saat putrinya merajuk
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status