INICIAR SESIÓNIsabella Lancaster seorang anak perempuan dari seorang mafia yang cukup berpengaruh dan disegani di Italia jatuh cinta pada pandangan pertama pada Luke Alonzo, setelah diselamatkan Luke dari kejaran orang-orang asing yang kemungkinan adalah musuh dari ayahnya. Kedekatan keduanya membuat keduanya menghabiskan satu malam bersama sampai benih tumbuh di rahim Isabella. Namun Isabella merasa dikhianati setelah mengetahui bila Luke, orang yang dicintainya merupakan anak dari seorang mafia kejam dan disegani, yang sialnya adalah musuh bebuyutan ayahnya. Cinta terlarang yang tidak seharusnya terjadi membuat keduanya terancam dimusnahkan oleh ayah mereka yang murka. Bagaimana kelanjutan kisah mereka? apakah mereka bisa bersama?
Ver másI stood there, my hands trembling slightly as I adjusted the edge of the tablecloth. The room was too quiet, and I could feel his eyes on me. My heart raced, and I told myself it was just my imagination. It had to be.
"You're shaking," his voice broke the silence. Deep and steady, it filled the space like a heavy presence I couldn’t escape. I froze, my hand still resting on the cloth. “I’m not,” I lied quickly, though my voice betrayed me. I didn’t dare look at him. "You are," he said again, this time softer, like he was enjoying my discomfort. I swallowed hard. "I don’t know what you mean," I whispered, keeping my eyes fixed on the table. Before I could take another breath, I felt his fingers gently lift my chin. My body stiffened, and I reluctantly met his gaze. His eyes... they were dark, intense, searching mine like he could see straight through me. “Sophia,” he said, my name rolling off his tongue in a way that made my cheeks flush. "Why are you so nervous around me?" "I’m not," I insisted, though my voice cracked. His lips curved into a small, knowing smile. “You are,” he repeated, his thumb brushing lightly against my chin. I took a shaky step back, breaking the contact. "You shouldn’t... you shouldn’t be doing this," I said, my voice barely above a whisper. “Doing what?” he asked, taking a slow step forward. “This,” I said, gesturing vaguely between us. “I’m just a maid. You shouldn’t be... looking at me like that or—” "Looking at you like what?" he interrupted, his tone teasing now. “Like... like that,” I stammered, my face burning. “You’re... you’re my boss. This is wrong.” His smirk deepened, and he took another step toward me. “Wrong?” he repeated, his voice dropping lower. “Or is it that you don’t want to admit you feel it too?” I shook my head quickly, panic rising in my chest. “No, I don’t feel anything. I mean, I can’t feel anything. This isn’t right. I’m just a maid.” “Sophia,” he said firmly, his tone commanding now. “Stop hiding behind that excuse.” “It’s not an excuse,” I said, my voice trembling. “It’s the truth.” “You think I care about titles?” he asked, stepping even closer until I could feel the heat radiating from him. “Do you think that matters to me?” “It should,” I said, my voice breaking slightly. “It matters to me.” He tilted his head slightly, studying me. "Why? Why does it matter so much to you?" “Because,” I said quickly, searching for the right words. “Because people like me... we don’t belong with people like you. You’re... you’re powerful, and I’m—” “Beautiful,” he cut me off, his voice firm. I froze, my words dying on my lips. “What?” I whispered. “You’re beautiful, Sophia,” he said again, his tone softer this time. “And I’m tired of pretending I don’t notice it. You think being a maid defines you, but it doesn’t. Not to me.” I stared at him, my mind racing. “But... you can’t mean that,” I said, my voice barely audible. “I do,” he said, stepping closer. “I’ve meant it for a long time.” I shook my head, trying to back away, but my back hit the wall. “You’re just saying that,” I said, my voice shaking. He leaned in slightly, his face inches from mine. “Do I look like the kind of man who says things he doesn’t mean?” I didn’t know how to respond. My heart was pounding so hard I was sure he could hear it. His presence was overwhelming, and I felt like I was drowning in his gaze. “I’m just a maid,” I said again, though the words felt hollow now. “And I’m just a man,” he replied, his voice soft. “A man who wants you.” I let out a shaky breath, my mind spinning. "This isn’t fair," I said quietly. "You’re not supposed to... to..." “To what?” he asked gently. “To make me feel this way,” I admitted, my voice barely above a whisper. For a moment, neither of us said anything. The room felt heavy with unspoken words, with emotions I didn’t want to face. Finally, I broke the silence. “I can’t do this,” I said, shaking my head. “I don’t belong in your world.” He reached up, brushing a strand of hair from my face. “You belong wherever I say you belong,” he said softly. “And right now, I want you here. With me.” My breath hitched, and I felt tears prick at the corners of my eyes. “Why me?” I asked, my voice breaking. “Because you’re different,” he said simply. “Because when I look at you, I see something I’ve never seen in anyone else.” I didn’t know what to say. Part of me wanted to run, to hide from the intensity of his words. But another part of me wanted to believe him, to let myself feel what I’d been trying so hard to deny. “You’re scared,” he said softly, his hand still resting against my cheek. I nodded slowly, unable to find the words. “It’s okay to be scared,” he said. “But don’t let it stop you from living.” I looked up at him, my eyes searching his for any sign of doubt. But all I saw was sincerity, a depth of emotion that left me speechless. He leaned in slightly, his breath warm against my skin. “I’m not going to force you,” he said. “But I’m not going to lie to you either. I want you, Sophia. And I think you want me too.” My heart ached at his words, and I felt my resolve slipping. “This isn’t supposed to happen,” I whispered. “Maybe not,” he said, his lips brushing against my temple. “But sometimes, the best things in life aren’t supposed to happen. They just do.” I closed my eyes, letting his words sink in. For the first time, I felt myself letting go of the fear, the doubt. Maybe he was right. Maybe it was okay to let myself feel, to let myself want. But before I could respond, the sound of a phone ringing shattered the moment. He pulled back slightly, his expression shifting. “I have to take this,” he said, his tone serious. I nodded, stepping back as he pulled his phone from his pocket. The tension in the room lingered, but the moment was gone. As he answered the call, I watched him, my mind racing. I didn’t know what would happen next, but I knew one thing for sure: nothing would ever be the same."Bagaimana?" tanya Nicole pada Lucas. Mereka sedang duduk di kursi tunggu yang tersedia di depan ruang gawat darurat. Setelah membawa Clara ke rumah sakit karena Clara tiba-tiba pingsan, kondisinya kritis, maka dari itu mereka langsung menghubungi Luke untuk datang, takut-takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, dan Luke juga adalah cucu kesayangan Clara."Dia akan ke sini secepatnya, karena di sana tengah malam, mungkin besok siang dia baru bisa berangkat ke sini," jawab Lucas.Nicole sontak menoleh ke arah Lucas, memiringkan kepalanya dengan dahi berkerut. "Tengah malam? Bukankah Italia dan California beda 9 jam ya?"Lucas melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 1 malam. "Iya juga ya.""Memangnya Luke sekarang di mana? dia tidak di Italia?""Dia di Italia. Dia pulang ke Italia Minggu lalu.""Hmm ...." Nicole berusaha berpikir keras. "Tapi ya sudahlah itu tidak penting, yang penting sekarang adalah Luke bisa cepat sampai ke sini untuk bertemu Oma. Siapa tahu
Brak!seseorang mendobrak pintu. "Hei! jangan lari!"Luke terperanjat namun ia tidak benar menoleh, ia tidak mau menunjukkan wajahnya yang mungkin akan dikenali oleh dua pria itu. Dengan gerakan cepat, ia menggapai jendela lalu melompat keluar."Ayo kita hadang dari luar!" Salah satu pria berkata seraya menarik jaket pria lainnya keluar.Luke mendarat ke tanah dengan keras hingga tudung hoodienya terlepas. Ia segera menggenggam tangan Isabella erat sambil mengedarkan pandangan ke sekitar namun hanya ada hutan yang berbatasan dengan bagian belakang gedung."Luke, ke mana kita harus pergi? Apa kita harus masuk hutan?" tanya isabella panik."Hei, berhenti!"Keduanya menoleh sekilas namun sayangnya itu membuat wajah Luke terlihat oleh mereka. Luke baru sadar kepalanya tidak ditutup hoodie lagi, ia merutuki dirinya dalam hati."Tsk!" Luke kembali menarik tudung hoodienya lalu menarik Isabella masuk ke dalam hutan.Mereka berlari menelusuri hutan dan dua orang pria itu terus mengejar mereka
Sesampainya di sana, hari sudah gelap. Luke melangkahkan kakinya menuju gedung tua yang tampak gelap tanpa ragu. Walaupun dalam hatinya ia merasa bila gedung itu tampak tak berpenghuni.Luke masuk sambil menghidupkan flashlight ponselnya untuk penerangan di dalam. "Isabella!" suaranya menggema dalam gedung kosong yang gelap dan mencekam namun ia tidak mendapatkan balasan. Suasana di sana terasa sunyi, dingin dan menyeramkan.Luke terus melangkah, cahaya ponselnya menyorot dinding kusam yang penuh lumut dan cat terkelupas. Debu beterbangan setiap kali ia menginjak lantai semen. Udara di dalam begitu pengap, membuat napasnya terasa berat.“Isabella!” panggilnya lagi, kali ini dengan suara lebih keras. Namun tetap saja sunyi. Beberapa saat kemudian, ia keluar dari gedung setelah menyadari tidak ada siapapun di sana.'Tidak ada siapapun di sini? apa Brian salah memberikan alamat? atau dia berniat menipuku?' Luke berpikir keras kemudian mengeluarkan ponselnya, mengecek kembali informasi ya
Setelah memutuskan sambungan sepihak, Luke menyimpan ponselnya lalu melangkahkan kakinya keluar dari hotel. Ia akan berkeliling kota menggunakan taksi, ia akan mencari Brian dulu karena dia lah satu-satunya kunci saat ini.Dia duduk di kursi belakang, menoleh ke luar jendela sepanjang jalan, tatapannya tajam menyapu ke jalanan yang dilewatinya."Pak, apa kau tahu tempat-tempat biasanya gangster berkumpul?"Sang supir melirik Luke dari kaca spion atas. Tatapannya seolah menyiratkan kebingungan bercampur ketakutan. "Saya tidak tahu, Mas. Tapi biasanya basecamp gangster gitu berada di tempat tersembunyi di pinggiran kota atau jauh dari keramaian."Luke mengangguk kemudian menghela napasnya pelan, merasakan kesulitan dalam pencarian Isabella karena tidak memiliki petunjuk sama sekali. Sesekali ia memeriksa ponselnya dan belum juga ada kabar dari Brian."Pak, antar saya ke Violetta cafe saja," ujar Luke akhirnya. Ia memutuskan untuk pergi ke kafe, tempat di mana Brian kerja. Siapa tahu Bri






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.