Luka yang Disembunyikan Istriku

Luka yang Disembunyikan Istriku

Oleh:  Rahma La  On going
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
35Bab
1.3KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Banyak sekali yang disembunyikan istriku. Apalagi ketika aku memutuskan untuk memberikan sebagian besar gajiku pada Ibu kandung. Berbagai rahasia terkuak. Kejutan apalagi yang aku dapatkan dari Ani? ***

Lihat lebih banyak
Luka yang Disembunyikan Istriku Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
35 Bab
Pertengkaran
[Uang gaji sudah ditransfer ke ibumu semua, Mas.][Makasih, sayang. Ibu pasti senang banget.]Aku tersenyum tipis. Kemudian kembali fokus ke komputer. Semua sudah aman, tidak perlu dipikirkan lagi, uang yang mamaku mihta bulan lalu sudah ditransfer. Istriku memang benar-benar pengertian. Untung saja dia mau menurut apa kataku, harus memberikan seluruh uang pada Mama. Jadi, uang gajiku akan aman, aku juga tidak akan durhaka pada Mama. "Gue habis belanjain istri, perawatan. Jadi tambah cantik deh." Sebuah suara terdengar dari samping, membuatku mengernyitkan dahi. Mendengar itu, aku menoleh ke Abdul, teman kerjaku di kantor. Dia tampak sumringah. Padahal habis keluar uang banyak. "Bahagia banget kayaknya. Mau-maunya dimanfaatin sama istri." Aku tertawa sambil menggeleng pelan. Apa yang ada di pikiran Abdul sampai bilang begitu. "Hah?!" Wajahnya tampak terkejut, Abdul langsung duduk di sebelahku, menatap serius. "Serius ngomong gitu?"Beberapa detik setelah aku menganggukkan kepala,
Baca selengkapnya
Bantuan?
"Kamu sakit apa, Ani?""Gak sakit apa-apa."Dia kenbali melanjutkan langkah. Aku buru-buru memegang tangannya, menahan dia yang hampir saja keluar dari rumah."Kamu habis nangis? Apa yang kamu tangisin? Uang sama perhiasan itu? Jangan cengeng lah. Aku gak suka." Aku menatapnya kesal, dasar wanita tidak tau diuntung."Ya. Bicara saja sepuasmu. Aku gak bakalan tangisin apa pun." Aku menatapnya tidak mengerti. Kenapa dia tidak menjelaskan apa yang terjadi? Kenapa seperti main kode begini? Kan aku juga jadi bingung."Lepasin tanganku." Dia berusaha melepaskan tangannya dari genggamanku. Ani tampak sekali tidak mau menatap mataku, sementara aku menatapnya aneh, apa yang dia sembunyikan?"Ini, coba aku mau tanya sama kamu. Ini list buat obat. Tulisannya mahal-mahal banget lagi. Kamu sakit?" tanyaku sekali lagi, berusaha mengorek informasi dari Ani.Dia menggelengkan kepala. Kemudian melangkah masuk ke dalam rumah. Membuatku menghela napas kesal. Dasar wanita menyebalkan, giliran aku bertan
Baca selengkapnya
Dimarahi Ibu
"Reyhan! Buka pintunya! Aduh, berat banget ini kopernya."Aku menepuk dari mendengar suara keriburab di luar. Haduh, ibu kenapa pakai datang sekarang, sih? Kenapa tidak nanti saja? Batal sudah aku mendengarkan pembicaraan mereka. Buru-buru aku keluar dari persembunyian, tidak mungkin aku terus menguping, membuat mereka curiga padaku. Kemudian membukakan pintu untuk Ibu. "Kamu itu bukain pintu doang lama banget." Ibu terlihat kesal denganku karena lama membukakan pintu. "Maaf. Mana koper Ibu?" tanyaku sambil mengedarkan pandangan. Aduh, ini benar-benar menyebalkan. Padahal tadi aku hampir saia mendengarkan apa rencana mereka. Entah apa yang sedang mereka rencanakan. Sementara adikku terlihat kesal juga. Dia langsung masuk, tanpa bilang padaku. Aku menghela napas kesal, buru-buru mengambil koper yang mereka bawa. "Eh, ini siapa?" tanya Nisa membuatku menoleh ke Abdul yang diam saja. Juga istri Abdul terlihat biasa saja. "Teman kantornya Reyhan. Yaudah, gue pamit dulu, Han. Makasih
Baca selengkapnya
Sebuah Perjanjian
"Berani ya kamu sama suami, hah?!" "Sudah. Aku malas berdebat." Ani tampak kelelahan sekali. Dia sepertinya malas berdebat denganku. Ini semua harus dibicarakan. Kenapa dia tampak berubah sekali sekarang? Padahal dulu bahkan sebelum Ani hamil, dia cantik sekali, dia juga lemah lembut. Tidak mau membantah suami. Lalu sekarang? "Kamu kok berubah banget, sih?" tanyaku kesal. Aku tidak suka dengan sikap Ani yang begini. Menyebalkan. Dia hanya melirikku sekilas. Kemudian melangkah meninggalkanku sendirian. Astaga. Bicara dengannya, seperti bicara dengan patung. Menyebalkan sekali, aku mengusap dahi, kemudian menoleh ke ponsel Ani yang diletakkan di atas meja. Ponsel jadul yang dulu aku belikan. Tidak ada yang menarik, aku hanya membuka bagian pesannya. Nomor tidak dikenal.[Besok kita ada jadwal, Bu.]Keningku terlipat. Apa maksud pesan ini? Jadwal apa?Hmm. Ini harus segera diselidiki. Pasti ada yang disembunyikan oleh Ani. ***"Ini makan apa?" tanya Ibu sambil menatap ke arahku. M
Baca selengkapnya
Awas Saja!
"Kamu ingat perjanjian itu, kan? Atau perlu aku ingatin ulang?"Ani terdiam sejenak. Pakaian yang sedang dia pegang terjatuh. Ani menoleh ke aku sekilas. Kemudian kembali menyusun pakaian ke dalam lemari. Dia sepertinya mengurungkan niat saat mendengar apa kataku. Aku menyipitkan mata menatapnya. Awas saja kalau dia berani kabur dari rumah. Aku tidak akan segan-segan untuk menghukum dia. Dia itu memang harus ditegasin sebagai istri, posisi dia di rumah ini. "Sampai kamu coba-coba kabur dari rumah ini, aku juga gak main-main dengan ancaman di perjanjian itu." Aku mencengkeram tangannya sampai agak kemerahan, baru kemudian melepaskannya. Aku keluar kamar. Itu konsekuensinya jika bermain-main denganku. "Mbak Ani mau pergi, Bang?" tanya Nisa saat aku baru saja menutup kamar. "Awalnya iya, tapi gak jadi. Dia harus sadar dia siapa di sini. Kamu awasi dia selama Abang pergi." Aku memberikan isyarat pada adikku itu. Nisa menganggukkan kepala. "Siap. Yang penting uang jajan aja."Mendeng
Baca selengkapnya
Istri atau Pembantu Kamu, Mas?!
"Heh, Ani!"Aku berkaca pinggang, menatapnya marah. Sementara Ani dan Bu Ainun menoleh kaget. Mereka saling berpandangan. "Ngapain kamu di sini?" tanyanya pelan. "Aku yang tanya, ngapain kamu di sini? Berani banget minjem uang tanpa sepengetahuan aku. Kamu itu istri siapa, hah?!"Dia terlihat gelisah, menyembunyikan tangannya di belakang. Aku menghela napas kesal. Langsung menarik tangan Ani. "Mas, jangan diambil." Dia berusaha menarik tangannya lagi.""Kasian banget, ya, Bu Ani. Suaminya kayak gitu. Dia gak bisa ngapa-ngapain. Aduh, kalau saya, udah saya tinggalin suami macam Pak Reyhan."Mendengar itu, aku langsung menoleh. Lagi-lagi warga kampung sini. Sebenarnya. Sudah berapa banyak yang tau masalah rumah tanggaku?Pasti gara-gara si Ani. "Eh, Bu Ani." Mereka melirikku takut-takut. Kemudian buru-buru melangkah pergi. "Menyebalkan," gumamku sambil kembali menatap Ani. "Haduh, Pak Reyhan kayaknya emang gak punya hati. Saya heran kenapa Bu Ani masih mau bertahan. Awas bisa saki
Baca selengkapnya
Istri atau Pembantu Kamu, Mas?!
"Heh, Ani!"Aku berkaca pinggang, menatapnya marah. Sementara Ani dan Bu Ainun menoleh kaget. Mereka saling berpandangan. "Ngapain kamu di sini?" tanyanya pelan. "Aku yang tanya, ngapain kamu di sini? Berani banget minjem uang tanpa sepengetahuan aku. Kamu itu istri siapa, hah?!"Dia terlihat gelisah, menyembunyikan tangannya di belakang. Aku menghela napas kesal. Langsung menarik tangan Ani. "Mas, jangan diambil." Dia berusaha menarik tangannya lagi.""Kasian banget, ya, Bu Ani. Suaminya kayak gitu. Dia gak bisa ngapa-ngapain. Aduh, kalau saya, udah saya tinggalin suami macam Pak Reyhan."Mendengar itu, aku langsung menoleh. Lagi-lagi warga kampung sini. Sebenarnya. Sudah berapa banyak yang tau masalah rumah tanggaku?Pasti gara-gara si Ani. "Eh, Bu Ani." Mereka melirikku takut-takut. Kemudian buru-buru melangkah pergi. "Menyebalkan," gumamku sambil kembali menatap Ani. "Haduh, Pak Reyhan kayaknya emang gak punya hati. Saya heran kenapa Bu Ani masih mau bertahan. Awas bisa saki
Baca selengkapnya
Kabar Mengejutkan
"Kamu?" Aku memiringkan kepala. Ponselku kembali berdering. Aku mendengkus kesal, dari Abdul. Dia ini kenapa, sih? Aku mengangkat telepon kesal, melangkah menjauhi Ani yang masih diam di tempatnya. "Kenapa?""Cepetan ke kantor.""Apa, sih, dari tadi?" tanyaku kesal. "Lo bakalan tau di kantor. Cepetan."Aku mengembuskan napas kasar. Kemudian melirik Ani. Sebenarnya, ada masalah apa di kantor?"Iya." Buru-buru aku mematikan telepon, kemudian mengambil jas. Sebelum ke kantor. Aku mengecek Ibu dan Nisa dulu di kamar. Ternyata sedang tidur siang. Aku menganggukkan kepala, kembali menutup pintu kamar.Pintu rumah diketuk kencang sekali. Aku mengernyit, siapa yang datang ke rumah ini? "Kami mau menagih utang." Keningku terlipat. Menatap kedua pria bertubuh kekar yang datang ke rumah kemudian bilang mau menagih utang.Memangnya siapa yang meminjam uang? Aku menatap mereka dari atas ke bawah. "Kalau mau nagih utang, tagih sendiri sama orangnya. Jangan ke saya, dong."Mereka bertatapan
Baca selengkapnya
Mencurigakan!
"Ke—kenapa saya dipecat, Pak?""Ini."Bosku memberikan catatan alasan yang membuatku dipecat. Aku diam sejenak, membaca semua yang tertulis. Sering terlambat, juga melakukan kesalahan di laporan keuangan. Aku menelan ludah, kemudian mengusap wajah. Kapan aku membuat kesalahan di laporan ini?"Maaf, Pak. Saya tidak merasa melakukan kesalahan penghitungan di laporan keuangan.""Bukti sudah jelas. Silakan bereskan barang-barangmu. Kamu sudah merugikan kantor, Reyhan.""Pak, saya—""Keluar atau saya panggilkan satpam."Ah, habis sudah aku. Beberapa detik terdiam, mencoba untuk menerima keadaan. Akhirnya aku menganggukkan kepala. "Saya permisi, Pak."Sebelum keluar, aku sempat melirik pria yang tadi aku tabrak. Entah kenapa, ada tatapannya yang aneh. Ah, kacau sekali hari ini. "Gimana? Apa kata Bos?" tanya Abdul ketika aku kembali dari ruangan bos. "Kacau, semuanya kacau." Aku memukul meja, kemudian membereskan semua barang-barang dengan kesal. "Kenapa, Han? Kok beres-beres?"Ada bany
Baca selengkapnya
Perubahan Ani
"Ngapain pegang-pegang?"Aku menoleh, sementara Abdul langsung mengambil ponselnya dari tanganku. "Itu pesan apa?" tanyaku pelan, penasaran sekali. Apa maksud dari pesan yang dikirimkan ke Abdul itu? Mataku langsung melebar, apakah dia ada hubungannya dengan pemecatanku?Wah, aku ditusuk ternyata dari belakang. "Lo yang buat gue dipecat, hah?!" Aku berteriak, menarik kerah bajunya. "Eh? Mana ada!"Abdul juga terlihat ngotot. Dia sepertinya tidak mau mengakui kesalahannya. Jelas, kalau mengaku semua, tidak ada kejahatan di dunia ini. "Halah, lo pasti ngincar posisi gue? Atau disuruh sama istri lo? Teman gak tau diuntung!" Aku berteriak-teriak sampai beberapa orang kantor yang sedang makan menoleh ke kami. "Heh, ini Agung. Yang biasanya nanyain kabar lo. Yang pas itu ketemu di ruangan. Masa gak ingat."Dia menunjukkan ponselnya padaku. Terlihat pesan di sana. Betul juga, itu bukan seperti yang ada di dugaanku. Ah, aku malah menuduh yang tidak-tidak. "Nih, bisa liat dia nanyain k
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status