Dendam yang Mengakar di Jiwa
Dia berlutut sambil menatap kotak abu jenazah putriku dengan kedua lutut yang gemetar tanpa henti, lalu dia meminta maaf kepada putriku, "Maafkan aku, Yoan. Ini salah Bibi, maafkan Bibi, ya. Jangan salahkan Bibi, salahkan ayahmu yang berperasaan, dia nggak layak disebut ayah …."
"Bibi hanya menghubunginya sekali saja. Bibi nggak memaksanya, dia sendiri yang datang menemui Bibi."
"Dia juga yang membawa pergi jantung yang seharusnya didonorkan untukmu, maafkan Bibi, ya. Kalau nggak, salahkan putraku saja, dia yang berbohong, dia yang membohongi ayahmu …."
Ucapan Diana membuat semua orang kaget.