LOGINWarning!!! 21+ harap bijak dalam memilih bacaan. Aryadi mengira keluarga kecilnya adalah sebuah definisi keluarga sempurna. Hingga suatu hari, ia melihat Alyasha memeluk mesra pria lain. Alyasha mengira bahwa keluarga kecil yang ia miliki akan bahagia selamanya. Sampai hari di mana ia melihat Mas Arya menindih tubuh wanita lain. Mereka berdua terus saja melanjuti lakon keluarga bahagia, sembari saling mengkhianati satu sama lain di balik punggung. Namun demikian, sandiwara dan kepura-puraan memiliki batas. Ketika telah mencapai titik di mana semua tidak bisa dibenahi kembali, yang menanti di hadapan mereka hanyalah kehancuran. Arion dan Annanda adalah dua orang anak tidak beruntung yang terjebak di dalam ego dan pengkhianatan orang tua mereka.
View More"Raka! Rakana! Keluar kamu! Jangan sembunyi, atau kubakar pelaminan di depan sana!"
Suara wanita yang amat kukenali terdengar menggema. Aku yang baru saja selesai dirias oleh make up artist terkejut bukan main. Brakkk! Aku makin terkesiap, kala pintu ruangan make up di gedung tempat pernikahanku akan berlangsung hari ini, didobrak amat kencang. "Faula?" gumamku pada sosok perempuan yang berhasil menggebrak pintu tadi. Dia adalah sahabatku sejak sekolah SMA. Dulu rumahnya tepat di depan rumahku, tapi sejak satu tahun lalu dia tinggal di luar kota karena mendapatkan pekerjaan di sana. Meski begitu, kami masih sering bertukar kabar melalui ponsel. "Kamu pulang juga akhirnya," ucapku merasa senang sekaligus tak percaya. Dua minggu sebelumnya, Faula mengabarkan tidak bisa datang untuk menjadi Bridesmaids di pernikahanku karena pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. "Kamu tidak bisa menikah dengan Raka!" ucapnya dengan tangan yang bersilang di depan dada. Matanya seolah memindai penampilanku dari atas hingga ke bawah. "A—apa maksudnya?" Aku bertanya tidak mengerti. Dia bahkan tahu hubunganku selama tujuh tahun ini bersama Raka. Dia yang selalu menjadi tempatku bercerita saat hubunganku dan Raka bermasalah. Dia tahu betapa aku mencintai laki-laki hitam manis itu. Kenapa tiba-tiba dia datang dan mengatakan demikian? "Karena ... aku hamil anaknya Raka!" Hah? Mataku melotot sempurna mendengarnya. Menatap Faula penuh selidik dan ia mengangguk tanpa ragu. "Iya. Aku hamil anak dari Raka. Sudah tiga bulan. Dia harus menikahiku, bukan kamu, Chia!" "Jangan bercanda kamu, Fau!" hardikku keras. Jari telunjukku berada tepat di depan wajah perempuan tinggi semampai dengan dress merah marun tanpa lengan ini. Faula menepis jariku kasar, lantas ia merogoh ke dalam tas hitam yang dipakainya. Mengeluarkan hampir lima testpack bergaris dua, amplop berlogo rumah sakit swasta, lalu terakhir fotonya bersama calon suamiku. Foto mereka berdua ... di atas ranjang. Melihat itu, jantungku seakan ingin melompat dari tempatnya. "Ini buktinya! Aku positif hamil. Surat hasil pemeriksaan dari rumah sakit. Dan ini, fotoku bersama Raka di kamar hotel. Masih kurang? Apa harus aku perdengarkan voice note mesra kami juga?!" cecar Faula berhasil membuat persendianku melemas. Aku tak kuasa lagi berdiri. Badanku sudah oleng, seseorang terasa menyangga dari belakang sampai tubuhku didudukkan. Tak terkira hancurnya hatiku mendapati kenyataan ini. Bagaimana mungkin? Aku sendiri masih sulit mempercayainya. Sejak kapan mereka berkhianat di belakangku? Sialan sekali. "Sekarang mana Rakana? Pernikahan kalian tidak boleh terjadi, Raka harus menikahiku. Dia harus bertanggung jawab atas kehamilanku!" lontar Faula tajam. Aku menggeleng menahan nyeri di hati yang teriris. Air mataku sudah ingin jebol dari tempatnya. "Di mana Raka?!" Faula bertanya membentak. "Rombongan calon pengantin pria belum datang!" Perias pengantin di sebelahku yang akhirnya menjawab. Perempuan cantik yang usianya sebaya denganku itu pun berlalu. Dia melangkah menuju pintu dan akhirnya keluar dari ruangan ini. Aku masih memikirkan apa yang terjadi saat ini. Hari pernikahanku bersama Rakana, hari yang aku impikan dan kurancang sedemikian rupa. Haruskah berakhir seperti ini? Bukti-bukti yang Faula beberkan masih teronggok di atas meja rias ruangan ini. Foto tak senonoh yang memuat kebersamaan mereka, berhasil membuat hati ini berdarah-darah dan patah sempurna. Akh ... Bagaimana bisa ...? Aku masih terus bertanya-tanya. Faula tidak sedang mengada-ada. Dia sedang memberikan bukti bahwa ia dan Rakana memang memiliki hubungan istimewa selama ini. Air mataku sudah lolos. Banjir membasahi pipi. Aku hanya bisa tergugu dengan gaun pengantin yang membalut indah di tubuh ini. "Chia, apa yang sebenarnya terjadi?" Suara Mama terdengar. Aku menengadah dengan wajah basah. Mama dan Papa memasuki ruangan. Mereka mendekat ke arahku dan Mama mendekapku. Saat itu juga, tangis ini tumpah ruah. Wajahku tenggelam di perut Mama. "Apa benar yang Faula katakan?" tanya Mama dan aku hanya bisa mengangguk lemah sambil terus terisak. "Rakana dan keluarganya baru saja datang, tapi Faula tiba-tiba berteriak. Mengancam akan membakar pelaminan jika Rakana tetap melanjutkan pernikahannya dengan kamu. Dia bahkan memegang pisau yang diarahkan tepat di depan perutnya. Dia juga mengancam akan menusuk perutnya yang sedang mengandung anak Raka," jelas Mama membuat hatiku semakin nyeri. "Benar begitu?" Aku masih tersedu. Tanganku lalu menunjuk pada meja rias di samping. Entah bagaimana reaksi Papa dan Mama setelahnya. "Kurang ajar Rakana!" geram Papa yang sepertinya sudah melihat bukti di meja rias itu. Terdengar derap langkah sedangkan Mama terasa mengusap punggung ini dengan lembut. ***** Aku sudah di aula. Meja yang seharusnya menjadi saksi ikrar suci ijab qobul, kini diisi oleh Rakana seorang diri. Lelaki dengan tuxedo hitam itu menunduk. Namun aku bisa melihat wajahnya babak belur dan sudut bibirnya berdarah. Sementara Faula berdiri di sampingnya tanpa rasa berdosa. Sepertinya, Raka kena hajar Papa. Aku berdiri diapit oleh Mama dan Mba Lin, kakakku. Riuh orang-orang yang sudah hadir terdengar memenuhi aula. "Memalukan sekali ini, Hans! Sia-sia aku menyiapkan pesta hari ini. Tapi seperti ini balasan kamu dan putramu?" hardik Papa kepada Om Hans, Ayah dari Rakana. "Iya. Jauh-jauh hari kami menyiapkan untuk hari ini. Semua yang terbaik kami berikan untuk perayaan pernikahan Chia dan Raka. Tapi apa? Putra kalian ternyata berselingkuh dengan Faula. Bagaimana sekarang? Semua keluarga dan kerabat sudah kami undang. Bayangkan, bagaimana kami hanya akan menjadi bahan cemoohan dan ledekan karena pernikahan dan pesta resepsi ini harus batal gara-gara perbuatan menjijikkan Raka!" Mama berteriak di depan kedua calon besannya. "Kami benar-benar minta maaf atas kejadian hari ini, Ruslan, Zaida. Mohon maaf sekali. Kami sebagai orang tua dari Raka, turut syok akan kejadian ini. Sungguh," ucap Tante Tari dengan kedua telapak tangan yang bertangkup. "Benar. Kami meminta maaf yang sebesar-besarnya atas hari ini. Semua di luar kuasa kami. Kami juga baru mengetahui kenyataan ini sekarang. Seandainya semua terungkap sebelum hari ini, saya selaku ayah Raka, tentu akan membicarakan semuanya lebih dulu. Tidak akan hal ini terjadi," tutur Om Hans lesu. "Aku gak peduli, Hans! Aku hanya peduli pada putri bungsuku. Dia dan anakmu sudah berpacaran sejak lama. Hampir tujuh tahun, bukan? Tapi, apa yang Chia dapatkan sekarang? Pernikahan impiannya harus batal dan kandas. Karena aku tidak mungkin menikahkannya dengan Raka. Jelas-jelas dia sudah menghamili perempuan lain!" tukas Papa kembali. "Tenang, Ruslan. Tenang. Kita bisa bicarakan dan berunding baik-baik," jawab Om Hans. "Berunding baik-baik gundulmu! Sudah tidak ada yang bisa dirundingkan lagi. Pernikahan ini batal! Batal!" ujar Papa penuh kemurkaan. Mendengar Papa berucap dengan tegas membatalkan pernikahanku dan Raka membuat hati ini kian berdenyut-denyut saja. "Pergi dari sini. Bawa anak lelakimu yang kurang ajar dan brengsek itu pulang. Pergi dari hadapanku!" Papa mengusir dengan terang-terangan. "Tolonglah tenang dulu, Pak Rus. Kita pasti akan menemukan solusi atas masalah ini," pinta Bu Tari. "Solusi apa? Sudah, bubar saja sana! Pergi kalian semua dari sini. Pergi! Memalukan!" tukas Papa dengan kerasnya. Pastilah Papa merasakan malu yang teramat sangat. Calon menantu yang dibanggakannya, ternyata tak lebih dari seorang pengkhianat. "Tunggu, Ruslan. Tolong dengarkan dulu kami." Om Hans terus memohon. "Apalagi yang harus didengarkan Pak Hans?" Mama menimpali kali ini. "Raka memang tidak akan bisa menikahi Chia. Tetapi pernikahan ini akan tetap bisa berjalan. Pesta ini harus tetap berlangsung. Pernikahan ini harus tetap terlaksana. Putra sulung kami yang akan menggantikannya. Fahad lah yang akan menikahi Chia menggantikan Raka," jelas Om Hans membuatku melongo dengan mata melebar sempurna. "Fahad yang akan menjadi mempelai pengganti" What? Bang Fahad yang akan menjadi mempelai lelakinya? Aku menikah dengannya? Hampir tujuh tahun aku berpacaran dengan Rakana. Bolak-balik aku ke rumah orang tua Rakana selama itu dan baru sekali aku mendengar suara dari laki-laki tersebut. Usianya dua belas tahun lebih tua dariku. Dia juga duda selama sepuluh tahun lamanya. Yang benar saja aku harus menikah dengan dia? *Apa yang kau inginkan, Annanda.Jika pertanyaan itu diucapkan padanya ketika ia masih kecil, Annanda akan memiliki banyak sekali jawaban. Banyak sekali hal di yang ia inginkan di dunia ini.Namun Annada yang sekarang bukan lagi anak kecil naif yang masih menatap dunia di sekitarnya dengan mata berbinar-binar penuh harap dan kebahagiaan. Banyak sekali hal yang telah disaksikan oleh kedua pasang mata itu, dan hal-hal tersebut telah membuat Annada berubah jauh dari ia yang dulu.Annanda menatap anak lelaki yang berdiri demikian dekat darinya. Wajah mereka demikian dekat hingga ia bisa mencium aroma mint napas Arga. Sepasang mata kelam yang tajam itu tampak seperti danau gelap tanpa dasar. Annanda ingin tenggelam di dalamnya, namun juga takut.Apa yang ia inginkan?Tidak ada banyak hal di dunia ini yang masih bisa ia sebut sebagai miliknya. Annanda yang sekarang tidak memiliki keberanian untuk untuk mengakui apakah ia diijinkan untuk meng-klaim sesuatu yang berharga seperti Arga sebagai m
Annanda menciumnya.Ulangi.Annanda menciumnya.Roger that!Arga sampai sama sekali tidak bergerak saking kagetnya ia. Ia hanya berdiri mematung di sana seperti orang bodoh, dengan bibir sedikit membuka karena syok. Jangan salah paham. Ini tentu saja bukan kali pertama ia ciuman, oke?! Walaupun bersetubuh lebih sering ia lakukan daripada berciuman, tetap saja ia bukannya orang yang sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam hal ini!Reaksinya yang hanya terpaku diam semata-mata dikarenakan syok! Sama sekali bukan karena ia tidak tahu harus melakukan apa dengan tangan, bibir, dan anggota tubuhnya yang lain. Otaknya benar-benar blank. Seperti kartu memori yang tidak sengaja ter-format dan kini kosong melompong. Ia tidak bisa memikirkan apapun selain tubuh Annanda yang lebih pendek darinya berjinjit untuk meraih Arga yang tidak kepikiran untuk menunduk. Harumnya yang manis dan terkecap sampai ke belakang tenggorokan Arga. Hangat bibirnya...Annanda mengeluarkan suara pelan yang teredam
Hari sudah sore. Matahari sudah sangat condong di ufuk barat, hampir sepenuhnya tenggelam. Waktu berlalu dengan cepat ketika kau mendongkol sepanjang hari.Arga bermaksud untuk pulang. Sungguh. Ia bahkan telah mengambil jalan memutar untuk keluar lewat gerbang belakang karena Mahesa memberitahu bahwa Anna menunggunya di gerbang depan. Ia tidak ingin melihat wajah anak itu untuk sementara ini.Ia tidak ingin...."...."Anna mendongak ketika mendengar suara langkah kaki yang mendekatinya. Mata cokelat hangat itu bertemu dengan obsidian gelap milik Arga. Anak lelaki itu menahan keinginannya untuk segera berpaling dan lari. Atau berjalan mendekat untuk menghampiri gadis itu. Tidak, tidak. Coret kalimat yang terakhir. Arga tidak ingin menghampiri Annanda. Sama sekali tidak.Sepertinya ada sesuatu yang tercermin dalam ekspresi Arga, karena setelah beberapa saat berdiri diam dan memandangnya tanpa ekspresi, Annanda akhirnya memalingkan pandangan sedikit, sebelum membuka mulut untuk bicara.
Ren sesungguhnya tidak benar-benar serius ketika ia menawarkan diri untuk berbicara pada Annanda.Annanda, meski ia adalah seorang gadis dan tubuhnya jauh lebih kerempeng daripada Ren, tetap saja menakutkan bagi anak laki-laki tersebut mengingat Ren pernah melihat sendiri bagaimana ia menyeret seorang kakak kelas dengan begitu brutalnya hingga hair extention kakak kelas tersebut lepas semua.Annanda sangat ganas. Muka juteknya sama sekali tidak menolong kesan pertama yang Ren miliki tentangnya.Namun Ren sudah terlanjur berkata pada Mahesa bahwa ia akan menemui Annanda. Ia tidak suka berbohong pada orang lain, terlebih pada sahabatnya sendiri.Maka, ketika Bastian dan Mahesa membereskan bola-bola basket yang mereka gunakan untuk latihan sebelumnya, Ren menyandang tas punggung di sebelah bahunya dan melangkah menuju gerbang depan sekolah.Ren melihat seseorang sedang berdiri di depan gerbang, memunggunginya. Namun orang tersebut jelas bukan Annanda.Dilihat sekilas pun, walau Ren hany
"Jadi ini yang kalian maksud untuk 'tutup mulut'?" Annanda menatap ayah dan kakaknya yang duduk di sofa dengan pandangan tak percaya. "Aku yang membunuh ibu?" "Kamu yang membunuh ibumu," sahut Aryadi. "Ayah!" "Dengar, Annanda!" Ayahnya menggebrak meja hingga suara debuman men
Aryadi merasa mati rasa. Rasanya, jika ada yang menikamnya dengan pisau saat ini, ia tidak akan bisa merasakan apa-apa. Sejujurnya, ia akan lebih memilih seseorang untuk menikamnya, daripada merasa hampa seperti ini. Aryadi tidak tahu bagaimana ia bisa melalui hari itu dengan
Aryadimenelan ludah pahit. Tidak pernah terpikirkan olehnya untuk menyakiti Alyasha. Mengapa sang istri terlihat seolah Aryadi berniat untuk menyakitinya? Kenapa Alyasha berpikir seperti itu? Aryadi sangat mencintainya. Dalam pikiran yang sedang dipengaruhi alkohol, Aryadi tid
Suasana hati Aryadi seharian semakin memburuk.Ia tidak bisa menghubungi Alyasha sama sekali. Sebagian dari dirinya masih berusaha menyangkal perselingkuhan yang dilakukan sang istri meskipun bukti yang ia lihat dengan matanya sendiri tidak terbantahkan.Sebagian dirinya yang merasa












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore