Hubungan antara guru dan murid itu kompleks karena ada dinamika kuasa yang tidak seimbang. Guru memiliki otoritas atas nilai, kedisiplinan, bahkan rekomendasi akademis murid. Ketika seorang guru memanfaatkan posisi ini untuk membangun hubungan romantis atau seksual dengan murid, itu jelas melanggar batas profesional. Banyak kasus menunjukkan bahwa murid sering merasa terpaksa atau tidak berdaya menolak karena takut dampak negatif pada akademis mereka. Ini bukan sekadar persoalan moral, melainkan juga bentuk abuse of power yang bisa digolongkan sebagai pelecehan seksual tergantung konteks dan hukum setempat.
Di beberapa negara, hubungan semacam ini bahkan ilegal secara hukum, terutama jika melibatkan murid di bawah umur. Tapi bahkan jika murid sudah dewasa, ketidakseimbangan kuasa tetaplah masalah serius. Aku pernah membaca kasus di 'Big Little Lies' di mana seorang guru terlibat skandal dengan murid SMA—fiksi itu menggambarkan betapa rumitnya dampak psikologis pada korban, meski si murid awalnya merasa 'consensual'.