My Beloved Partner
"Aku mau waktu. Bukan untuk pergi, tapi untuk menyembuhkan. Aku tetap di rumah, tetap jadi partner kamu. Tapi mungkin, untuk sementara... kita nggak perlu bicara soal publikasi pernikahan dulu. Nggak perlu soal masa depan. Nggak perlu soal punya anak. Biarkan aku kembali ke alasan kenapa dulu aku mencintaimu: karena kamu bisa bikin aku tertawa meski sedang hancur."
Taka terdiam, mematung. Bibirnya bergerak seolah ingin berkata, tapi hanya isakan kecil yang terdengar. Ia menarik tubuh Wisang dalam pelukannya, memeluk seerat mungkin. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian bulan, pelukan itu terasa lebih seperti perpisahan daripada penyatuan.
---