Ada sesuatu yang magis dalam cara novel-novel xianxia menggambarkan kultivasi, seolah-olah kita bisa merasakan energi qi mengalir di antara halaman-halamannya. Di dunia nyata, tentu saja tidak ada latihan pernapasan yang bisa membuat kita melayang atau mengeluarkan jurus pedang api. Tapi menariknya, beberapa prinsip dasar mirip—disiplin, konsistensi, dan penguasaan diri. Bedanya, di novel, karakter bisa mencapai kemahiran dalam beberapa tahun berkat bakat supernatural atau pertemuan kebetulan dengan guru legendaris. Sementara di kehidupan nyata, butuh puluhan tahun latihan keras untuk menguasai seni bela diri atau meditasi tingkat tinggi.
Justru karena itulah kultivasi dalam novel begitu memikat. Ia memberi kita fantasi tentang potensi manusia yang tak terbatas, sambil tetap menyisipkan nilai-nilai nyata seperti ketekunan. Aku sering menemukan diri termotivasi oleh perjuangan karakter fiksi ini, meski tahu realitanya jauh lebih sederhana.