Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Kasih Abadi

Kasih Abadi

Kata Senja pelan yang dibalas Sedia dengan cengengesan. Petikan gitar pun mulai mengalun dan kasih mulai membacakan puisinya. Sore hari ini hujan kembali mengunjungi bumi Heran bahkan sudah jatuh berkali kali namun masih saja kembali Untuk sore ini ku harap hujan tinggal sedikit lebih lama Entah kenapa namun aku suka Yah tapi jangan terlalu lama, nanti penduduk bumi murka Oiya hujan kamu tahu tidak tuan diseberang sana?
106.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 210 kali sebagai senja hujan dan cerita yang telah usai
Baca
+Pustaka
Perpisahan Di Musim Salju

Perpisahan Di Musim Salju

Jawab Ken. Rin yang hendak bertanya lagi tidak sempat. Rintik hujan turun dan mereka kembali ke mobil saat hujan semakin deras mengguyur bumi di senja ini. ******
4.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 144 kali sebagai senja hujan dan cerita yang telah usai
Baca
+Pustaka
Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin

Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin

Hanya satu pemahaman baru beberapa percakapan memang berakhir bukan dengan klimaks, melainkan dengan kejelasan yang tenang. Sore hari, hujan turun pelan. Seeyana memilih berjalan pulang meski bisa naik transportasi. Sepatunya basah sedikit, tapi ia tidak peduli. Langkahnya pelan, seolah setiap langkah adalah jeda kecil yang ia izinkan.
1.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 50 kali sebagai senja hujan dan cerita yang telah usai
Baca
+Pustaka
Senja yang Hilang di Malam Tanpa Suara

Senja yang Hilang di Malam Tanpa Suara

Memikirkan hal ini, aku mencabut kartu SIM, lalu mematahkannya menjadi beberapa bagian dan membuangnya ke tong sampah. Selamat tinggal, Christopher. Mulai sekarang, di senja yang sunyi dan malam yang sepi, tidak akan ada lagi aku di duniamu. Setelah mengetahui kepergianku, amarah Christopher langsung berkobar dan dia menjadi sangat gelisah. Dia meneleponku berulang kali, tetapi panggilan itu tidak terhubung.
5.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 136 kali sebagai senja hujan dan cerita yang telah usai
Baca
+Pustaka
Di Ujung Senja

Di Ujung Senja

Setelah itu, botol dan kaleng makin banyak berdatangan silih berganti. Para wartawan pun berhamburan melarikan diri. Ibu Chika merangkul putrinya dengan mengenaskan, mereka berusaha menghindari serangan yang datang bertubi-tubi bagaikan hujan dan melarikan diri layaknya tikus got. Dari balik layar, aku menikmati tontonan lelucon ini dengan perasaan puas. Yoga meneleponku, suaranya terdengar sedikit lemah yang tidak biasa. "Ada lagi yang kamu butuhin dari aku? Masukin saja ke paket perceraian, aku nggak bakal narik biaya tambahan kok."
12.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 397 kali sebagai senja hujan dan cerita yang telah usai
Baca
+Pustaka
Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang

Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang

Malam ini, tepat di malam pergantian tahun, hujan turun dengan sangat deras. Di tengah riuhnya suara hujan, Rian tiba-tiba datang mengetuk pintu rumah Kakek dan nenekku. "Lintang, cepat keluar! Hujannya turun!" Aku ditarik olehnya dan kami berlari ke teras, lalu berjalan pelan menembus gerimis yang mulai mereda. Tetesan air jatuh membasahi bumi, suasananya begitu tenang, tetapi terasa megah.
2.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 65 kali sebagai senja hujan dan cerita yang telah usai
Baca
+Pustaka
Sukses setelah ditalak Tiga

Sukses setelah ditalak Tiga

Jam menunjukkan angka sebelas malam, hujan mulai reda, tapi banjir mulai melebar ke jalanan di depan rumah. "Mau pakai cabe nggak? Biar ada pedes-pedesnya," tawar Keira. Ia membuka kulkas. "Nggak mau. Nggak suka pedes. Sukanya sama yang manis-manis, kayak Mbak Keira yang belum jawab-jawab." Keira berkacak pinggang, "apa yang tadi kita lakuin nggak bisa jadi jawaban?! Bener-bener anak muda, ya, harus disuapin kisi-kisi dulu baru tau jawabannya!"
1027.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 909 kali sebagai senja hujan dan cerita yang telah usai
Baca
+Pustaka
Bos Arogan Itu Ayah Anakku

Bos Arogan Itu Ayah Anakku

Bab 85 – Hujan Luka di Senja Hari Sore itu, langit tampak kelabu. Angin bertiup lembut, membawa aroma tanah basah setelah hujan gerimis yang baru saja reda. Anya berdiri di teras rumah, menyapu dedaunan yang berguguran. Pikirannya masih dipenuhi kegelisahan tentang Kenzo. Namun, belum sempat ia menenangkan diri, suara langkah kaki terdengar mendekat.
2.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 78 kali sebagai senja hujan dan cerita yang telah usai
Baca
+Pustaka
Dibenci mertua karena tidak sederajat

Dibenci mertua karena tidak sederajat

Ceklek “Loe kenapa?” Tanya Farah yang kini malah terkejut melihat penampilan Senja yang bisa di katakan miris. Kantung mata menebal dan menghitam, jangan lupakan bekas air mata yang belum lama surut. Berapa lama sahabatnya itu menangis? Ditanya seperti itu Senja langsung memeluk Farah dengan erat. Ia butuh seseorang juga untuk berbagi cerita. “Saga... “ Gumamnya lirih sambil terus menangis.
107.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 229 kali sebagai senja hujan dan cerita yang telah usai
Baca
+Pustaka
Wanita Kesayangan Tuan Duda

Wanita Kesayangan Tuan Duda

Udara dingin yang sebentar lagi berubah menjadi hujan, bahkan cuaca pun ikut mendramatisir penderitaannya. Di saat keterpurukan terasa sangat berat dipikulnya, Selena Tan menundukkan pandangannya, membiarkan tetes air mata jatuh membasahi tanah. Ia sampai pada titik lemah memperjuangkan sesuatu yang sulit dijangkau oleh tangannya. Tanpa kekuatan, ia sungguh bukanlah siapa-siapa. Gerimis mulai turun disertai angin kencang namun tidak bisa menerbangkan kesedihan yang terlanjur masuk ke dasar hati Selena Tan. Hingga ia mendapatkan secerca cahaya menyilaukan dari arah depan, meskipun dalam posisi menunduk, ia sadar akan perubahan di depan yang menjadi sangat terang.
9.611.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 285 kali sebagai senja hujan dan cerita yang telah usai
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Pertanyaan tentang ending 'Hujan dan Kenangan' ini bikin aku langsung teringat gemericik air hujan dan nuansa melankolis yang menyelimuti ceritanya. Novel ini memang punya cara unik untuk menyentuh relung hati pembaca, terutama lewat ending yang cukup meninggalkan kesan mendalam. Aku ingat betul bagaimana cerita ini mengajak kita berjalan-jalan di antara kenangan dan kenyataan, sebelum akhirnya memutuskan untuk melepaskan sesuatu yang mungkin sudah tidak bisa dipertahankan lagi.

Di bagian akhir, tokoh utamanya seperti menemukan semacam pencerahan setelah melalui semua lika-liku hubungan yang rumit. Hujan yang selalu menjadi simbol penyegaran dan kesedihan dalam cerita ini akhirnya berhenti, seolah memberi tanda bahwa sudah waktunya untuk move on. Adegan terakhirnya menggambarkan sang tokoh berdiri di bawah langit yang mulai cerah, dengan senyum kecil yang ambigu—apakah itu senyum lega atau justru senyum getir karena harus menerima kenyataan? Novel ini sengaja membiarkan interpretasi terbuka, yang justru membuatnya lebih memorable.

Yang menarik, ending ini tidak terjebak dalam klise 'happy ending' atau 'tragis' yang mudah ditebak. Justru keindahannya terletak pada bagaimana kita sebagai pembaca bisa merasakan bahwa kehidupan tokohnya akan terus berjalan, dengan atau tanpa hujan dan kenangan yang selama ini menghantuinya. Adegan terakhir yang sederhana tapi penuh makna ini bikin aku berpikir ulang tentang cara kita memaknai perpisahan dan pertemuan dalam hidup.

Setelah menutup buku ini, ada perasaan campur aduk yang tertinggal—sedih karena ceritanya sudah berakhir, tapi juga terharu karena bisa menyaksikan perjalanan emosional yang begitu jujur. 'Hujan dan Kenangan' berhasil menutup kisahnya dengan cara yang elegan, meninggalkan jejak di hati tanpa perlu dramatisasi berlebihan. Aku sendiri butuh beberapa hari untuk benar-benar bisa move on dari efeknya, karena endingnya yang contemplative itu somehow nyangkut terus di pikiran.

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status