OBSESI BARA
"Katakan, selama ini ... kamu bersenang-senang dengan sebuah kebohongan kan?"
Laila menggeleng. Nyalinya semakin menciut saat tatapan Bara tidak seperti biasanya. Matanya memerah, rahangnya menahan bentuk emosi yang entah apa itu, hanya saja Laila bisa melihat kemarahan Bara dari kepalan tangan itu.
Bara, mengepalkan tangannya hingga menampakkan urat-urat.
"Mas, aku enggak ngerti apa maksud kamu. Tapi tolong, dengarkan ucapan Laila kali ini..."