Gairah Terlarang Di Bus Wisata
“Bu Angel, jangan asal gerak.”
“Wajahmu merah sekali, kamu kepanasan, ya?”
Di dalam bus wisata yang penuh sesak dan gerah, aku dipeluk erat oleh Chandra, donatur terbesar di sekolah, sekaligus ayah dari murid paling nakal di kelasku.
Kemeja putihku sudah basah kuyup karena berkeringat sejak tadi. Seiring dengan guncangan bus yang kuat, bokong montokku yang hanya terhalang rok span tipis, tertekan oleh benda miliknya yang perlahan-lahan terbangun di balik celananya. Benda miliknya yang panas membara itu mendorong ke depan dengan tekanan yang pas.
Tepat di bawah tatapan seluruh murid dan orang tua yang memenuhi bus, serta tidak jauh dari anak kandungnya sendiri, kedua kakiku langsung terasa lemas. Tubuhku yang sensitif tersentak karena sensasi panas yang membakar itu. Seketika, gelombang gairah yang memalukan membasahi celana dalamku.
Dengan perasaan malu sekaligus marah, aku menoleh untuk memberi peringatan padanya.
Namun, aku malah bertatapan dengan sepasang mata hitamnya yang dalam, memancarkan sorot penuh godaan dan obsesi….