My Game Boyfriend
Arthur mulai berjalan mondar-mandir di sekitar ruangan kecil itu, matanya bergerak-gerak seolah sedang menyusun rencana besar di dalam kepalanya.
"Yang pertama, kita harus membeli cincin yang sesungguhnya," katanya sambil berbalik menatap Melati sambil tersenyum jahil menunjuk ke arah jari wanitanya. "Bukan hanya cincin sederhana yang kau bawa di saku hanya untuk keperluan ujian ini saja. Kita butuh cincin yang indah, yang akan kita pakai seumur hidup. Dan mungkin... kita bisa beli kalung atau gelang yang serasi juga? Sesuatu yang pasangan, sesuatu yang membuktikan kita milik satu sama lain."