Lihat, luka itu nggak langsung hilang, tapi aku menemukan kata-kata yang jadi perban sementara.
Pasca-putus, aku sering mencari kalimat yang tajam tapi hangat, yang bisa kubaca pagi-pagi saat kepala masih berat. Kadang yang kubutuhkan bukan nasihat panjang, melainkan satu baris yang membuat napas panjang terasa lebih ringan. Aku tulis beberapa kutipan yang sering kusingkap di buku catatan kecilku, dan entah kenapa, tiap baris itu seperti mengatur ulang cara aku bicara pada diri sendiri.
"Jangan takut kehilangan — takutlah pada dirimu yang lupa caranya mencintai diri sendiri."
"Sakit ini bukti kau pernah memberi, bukan bukti kau tak cukup berharga."
"Berhenti menunggu alasan untuk bahagia; ciptakan alasan itu sendiri."
"Melepaskan bukan berarti menyerah, melainkan memberi ruang untuk sesuatu yang lebih cocok."
"Tangisanmu hari ini adalah benih kekuatan esok hari."
"Orang yang pergi memberi pelajaran; orang yang tinggal memberi kesempatan."
"Belajar sendiri itu bukan jeda dalam hidup, melainkan latihan jadi versi lebih lengkap."
Kadang aku mengulang satu kutipan sampai suaraku nyaris ikut memercayainya. Itu sederhana: bukan eliminasi rasa, tapi pengalihan tenaga. Kutip-kutip itu seperti teman yang duduk di sampingku, nggak menggantikan kehilangan, tapi menuntun aku pulang ke diri sendiri. Aku tidak lagi menunggu kata-kata dari mantan; aku membuat kata-kataku sendiri, lambat-lambat merapihkan pecahan hati jadi peta baru.