Rayuan Maut Para Tetanggaku
Aku segera membangunkan Bang Didi.
"Bang, bangun. Sudah pagi. Kita pulang sekarang,” bisikku.
Bang Didi menggeliat, lalu mengangguk. Kami segera merapikan diri dan turun ke lantai satu.
Di ruang makan, Istri Bang Hadi sudah menyiapkan sarapan. Aroma nasi goreng mengepul menggoda.
“Wah, sudah bangun, Nak Bima, Nak Didi? Ayo, sarapan dulu,” kata Istri Bang Hadi dengan ramah.