Madu yang Kupilih untuk Suamiku
"Bukankah itu egois, Rin? Kamu nggak bisa maksa Tama."
"Aku tahu ini sangat egois, Nai. Tapi aku nggak ada pilihan lain lagi."
Perjalanan kami di warnai dengan obrolan yang menyangkut tentang pilihan hidup yang aku pilih.
Dua puluh menit kemudian, tibalah kami di tempat tujuan.
"Assalamu'alaikum," ucapku saat memasuki ruang pengurus.
"Wa'alaikum salam. Bu Rina? Tumben kesini nggak kasih kabar dulu," sahut Pak Wawan, salah satu pengurus di panti itu.