Ada satu trik kecil yang selalu bikin naskahku merinding: fokus pada detail sepele.
Aku mulai dengan menetapkan normalitas yang rapuh—sebuah ruang tamu yang biasa, suara kulkas, lampu yang berkedip sesekali—lalu memasukkan satu gangguan kecil yang terasa tidak pada tempatnya. Dalam cerita pendek menakutkan, ruang antara informasi yang diberikan dan yang disembunyikan itu yang bekerja paling efektif. Aku sengaja menahan penjelasan, membiarkan pembaca mengisi kekosongan dengan ketakutan mereka sendiri; imajinasi orang sering kali lebih kejam daripada deskripsi panjang lebar. Bahasa yang kupakai cenderung simple: kalimat pendek saat ketegangan memuncak, kalimat panjang bergaya mengalir saat suasana tenang, lalu potongan-potongan kata yang tajam ketika sesuatu tak beres.
Strukturku biasanya padat: pembuka yang langsung memancing rasa ingin tahu, pembangunan suasana lewat indera (bau, suara, tekstur), lalu intrusi perlahan yang mengubah makna semua detail sebelumnya. Aku suka memakai format bukan-secara-standar—misalnya log chat, catatan harianku, atau transkrip rekaman—supaya pembacaan terasa nyata. Endingnya jarang eksplisit; aku lebih memilih implikasi atau satu kalimat yang membuka kembali ruang misteri. Contoh pembuka sederhana yang sering kucoba: 'Telepon di meja terus berdering meski semua colokan sudah tercabut.' Kalimat itu menanam pertanyaan langsung.
Saran praktis dari pengalamanku: edit sampai setiap kata punya tujuan, potong adegan yang menjelaskan terlalu banyak, dan uji cerita pada teman yang takut dibuat penasaran. Kadang satu metafora aneh atau suara yang salah tempat sudah cukup untuk membuat pembaca tidur dengan lampu menyala. Aku tetap suka melihat reaksi orang saat mereka menemukan celah kecil yang kusembunyikan—itu alasan aku terus menulis cerita seperti ini.