Petaka Mendua
Suara isakan itu, terus menarikku, untuk mencari keberadaannya.
"Siapa pula yang menangis malam-malam begini?" batinku.
Jantungku nyaris copot, ketika aku, ternyata sudah berjalan menuju ruang tamu.
"Astagfirullah," pekikku, sembari menutup mulutku.
Rasanya tubuhku melemah, dan gemetar hebat, melihat dua orang di depanku.
"Kamu senang?" tanya orang aneh itu, sembari mengelus-elus pipi Maya.
Capítulos Populares