Kontrak Terlarang sang Penulis
Sebaliknya, sudut bibirnya justru terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman misterius yang dingin sekaligus penuh kemenangan.
Xavier memutar kursi kulitnya, menatap lurus ke luar jendela besar, memandangi kesibukan kota di bawah sana yang tampak sekecil semut. Di matanya, semua orang di kota ini tak lebih dari sekadar bidak catur yang pergerakannya sudah bisa ia tebak. Termasuk seorang wanita malang bernama Citra.
"Dia pasti akan kembali, Bastian," ucap Xavier dengan nada suara yang teramat dingin namun penuh keyakinan yang mutlak.