Ada kalanya kita lupa mengungkapkan rasa terima kasih kepada orang yang paling berjasa dalam hidup. Seperti kemarin, ketika melihat foto lama di mana Ayah mengajari naik sepeda, tiba-tiba aku tersadar betapa banyak hal kecil yang beliau lakukan dengan penuh cinta. Surat ini kubuat dengan tinta hangat dan kertas yang kububuhi aroma kopi kesukaannya: 'Ayah, terima kasih untuk semua diam-diam yang kau lakukan—mulai dari memastikan helmku selalu terpasang rapat sampai menyimpan gunting kuku di laci mobil karena tahu aku suka lupa. Aku mungkin tak pernah bilang, tapi setiap kali bisa memecahkan masalah di kantor, itu karena logikamu yang kau tularkan sambil main catur di teras. Jangan salahkan aku jika nanti surat ini basah oleh rindu yang menetes.'
Di paragraf kedua, kuselipkan cerita tentang bagaimana cara beliau mendengarkan curhatanku soal putus cinta tanpa menghakimi, hanya dengan menyajikan teh jahe dan berkata, 'Minum dulu, nanti juga reda.' Aku ingin Ayah tahu bahwa setiap kata bijaknya menjadi mantra yang kubawa hingga dewasa. Kututup dengan janji sederhana: 'Suatu hari nanti, aku akan menjadi tiang yang kokoh seperti Ayah—tapi tetap izinkan aku sesekali merengek minta dagangan pasar pagi seperti anak kecil, ya?'