Dari Budak Menjadi Bencana
Kesadaran kami, Jiao dan aku, berjuang untuk menyusun kembali diri di dalam tubuh fisik kami, seolah-olah setiap kenangan dan emosi perlu diverifikasi ulang untuk memastikan keasliannya—bahwa itu masih milik kami, bukan sekadar variabel dalam sebuah persamaan besar.
Hong membantu kami berdiri, cengkeramannya yang kuat adalah jangkar yang menyambungkan kami kembali ke realitas yang tidak sempurna. Lor, ahli geometri Krystalline, memandangi kami dengan "mata"-nya yang berkilauan, sebuah emosi yang asing—harap—kini bersinar di dalamnya.
"Suara itu..." bisiknya, merujuk pada melodi kristal yang samar yang masih bergema di kejauhan. "Aku hampir melupakannya."