Bu, Jangan, Juna Masih Perjaka !
Arjuna Dewangga alias Juna adalah seorang siswa penerima beasiswa miskin yang bertahan hidup dengan berjualan jamu keliling di sekolahnya. Namun, sebuah insiden di toilet wanita mengubah total garis takdir hidupnya. Juna tidak sengaja memergoki Ibu Arini, guru Bahasa Indonesia yang terkenal anggun, sedang meluapkan gairahnya sendiri akibat sebuah penyakit kutukan langka. Saat penyakit itu mendadak kambuh hingga membuat tubuh Ibu Arini kejang dan sedingin es, ketulusan Juna tanpa sengaja membangkitkan warisan gaib di dalam darahnya.
Ternyata, Juna adalah keturunan tabib sakti mandraguna pemilik ilmu kultivasi pengasihan tingkat tinggi. Pengorbanan sang ibu yang menderita lumpuh demi memicu kekuatannya, membuat tubuh Juna kini mengalirkan energi panas penyembuh. Melalui dekapan fisik yang intim, Juna berhasil menjadi penawar bagi Ibu Arini. Terikat oleh rahasia dan kebutuhan medis yang tabu, Ibu Arini menawarkan kontrak rahasia senilai dua puluh juta rupiah per bulan agar Juna bersedia menjadi "obat" pribadinya setiap malam.
Sejak energi kultivasinya bangkit, daya pikat maskulin dan aura predator Juna menguar tak terkendali. Hal ini tidak hanya memikat Ibu Arini , tetapi juga mulai menyengat naluri kewanitaan Clarissa Wijaya, sang Ketua OSIS ningrat yang sedingin es , serta memicu gelombang gairah dari Mbak Ratna si pemilik kantin.
Langkah Juna kian terjebak dalam lingkaran syahwat dan intrik sekolah ketika dia mengantarkan jamu pesanan Ibu Sarah, guru olahraga yang killer. Di dalam ruang peralatan yang sepi, sebuah ketidaksengajaan membuat Juna menyaksikan keindahan tubuh Ibu Sarah yang agresif. Bukannya menghindar, sang guru olahraga justru mengunci tubuh Juna dan menuntut "jamu" biologis langsung ke dalam tubuhnya. Kini, Juna harus menavigasi kehidupan barunya di antara ancaman fitnah Pak Broto , godaan para wanita dewasa, dan kultivasi magis yang terus menuntut pelepasan energi kejantanannya.