Di Ambang Gila
Malam itu, saat kerumunan mulai pergi, Ares dan Elara berdiri sendiri di tengah galeri, dikelilingi oleh kekacauan dan keteraturan mereka yang tergantung di dinding.
“Kau lihat?” bisik Elara, tangannya meraih tangan Ares. “Aku selalu mengatakan kita adalah pola.”
“Pola yang bagus,” gumam Ares, mencium keningnya.
Mereka telah menciptakan sesuatu yang baru bersama-sama. Bukan hanya sebuah pameran, tetapi sebuah bukti bahwa dua bahasa yang berbeda—bahasa rasa dan bahasa data—bisa saling memahami. Bahwa dua dunia yang terpisah bisa bertemu dan menciptakan dunia ketiga yang lebih kaya, lebih aneh, dan lebih indah dari keduanya.
Hot Chapters