ISTRIKU SERING MENANGIS
Akhirnya, cara ini berhasil, untuk saat ini, sandiwaraku cukup menguras air mata yang jarang aku keluarkan.
"Anika, maafkan aku, ini kulakukan karena benar-benar menyayangi anakmu, Ryan, yang sekarang bernama Ardan," sambungku dengan memancarkan senyuman. Sita yang tidak tahu ini adalah sandiwara, ia sempat keceplosan.
"Bu, kenapa sekarang jadi begini? Bukankah Ibu tidak ingin mereka bersatu?" celetuk Sita. Ardan dan Anika menautkan kedua alisnya.