Daster Buat Istriku
Dia langsung menyela kalimatku, mungkin merasa risih jika aku sempat mengucapkan nama pakaian dalam itu.
“Lalu?” tanyaku mulai serius.
“Begini, menurut saya … Bapak sangat membutuhkan pendamping. Seorang istri lebih tepatnya.”
Aku tercekat. Menunggu kalimat lanjutannya.
“Eem, jika Bapak punya istri, dia akan melayani semua kebutuhan pribadi Bapak. Mulai dari memilihkan pakaian ke kantor setiap harinya, membangunkan Pak Bara di pagi hari. Membangunkan Bima, menyiapkan Bima ke sekolah. Mendampingi Bima saat mengerjakan pe er. Mengatur dan menata rumah ini. Iya, kan, Pak?”