MasukAileen Andita, bekerja siang dan malam hanya untuk membayar utang judi sang Ibu kandung dan suami barunya. Saat dokter memvonisnya sebagai penyintas kanker perut stadium dua, Aileen merasa dunianya runtuh dan hidupnya tak lagi bermakna. Ancaman dari para penagih utang membuat Aileen harus menggadaikan dirinya pada Bagas—pria arogan yang kehilangan istrinya, karena kecelakaan. Memaksa Aileen untuk menjadi penghubung sekaligus sosok pengganti Aira—Istri Bagas. * Adult Romance (Mengandung adegan dewasa secara eksplisit maupun implisit di beberapa bab).
Lihat lebih banyakBagas berdiri mematung di lorong rumah sakit, tubuhnya tampak lebih rapuh dari biasanya. Cahaya lampu neon yang redup memantulkan bayangan kelabu di wajahnya, membuatnya tampak seperti bayangan dari sosok yang sudah hilang. Seperti orang yang telah kehilangan arah, terperangkap dalam ketidakpastian yang tak bisa diungkapkan. Daren menatapnya dengan tatapan yang penuh pertanyaan, marah dan cemas sekaligus. “Kenapa kamu pergi begitu saja?” suaranya terdengar penuh kekesalan. “Kamu tahu bagaimana kondisinya, tapi malah meninggalkannya seperti ini.” Bagas hanya menatap ke depan, napasnya tersengal pelan. Ada sesuatu yang tertahan di dalam dada, sebuah perasaan yang tidak bisa ia keluarkan. “Aileen benar,” Bagas akhirnya membuka suara, pelan dan penuh kepedihan. “Tiap kali aku melihatnya, aku melihat istriku.” Daren terdiam, mencoba mengerti apa yang baru saja didengar. “Bagas…” suaranya serak, namun penuh kesungguhan. “Dia Aileen, bukan Aira.” “Mereka mirip,” kata Bagas dengan suara y
[PLAK!]“Bodoh!” Raungan bayangan hitam, menghantarkan suara melengking hingga menggetarkan gendang telinga. Seketika nyali dari wanita yang meringkuk—duduk bersimpuh di lantai, menciut.“Kalau bukan karena mu, aku pasti sudah berhasil merebut tubuh itu,” desis bayangan hitam, bernada geram.“Akh … Le-lepaskan.” Wanita malang itu berontak, saat tangan besar meraup lehernya dan mencekik hingga nyaris membuatnya tak bisa bernapas.“Ampun …” cicit sang wanita dengan suaranya tercekat dan netra yang bergetar karena takut. Dia mengatupkan kedua tangan, memohon belas kasih.“Tidak berguna!” Sentak bayangan hitam marah. Ia menghempas wanita tak berdaya itu ke lantai lalu menyeka tangannya, seolah baru saja menyentuh seonggok sampah yang menjijikan.“Lakukan tugas mu dengan baik atau kau ingin melihat pria itu mati di tangan ku?” “Tidak … tidak.” Sang wanita menggeleng cepat seraya memohon—menggosok telapak tangannya berulangkali. “A-aku akan segera membawanya padamu,” rintihnya terbata.Ba
Aileen bergerak gelisah dalam tidurnya. Napasnya tersengal-sengal hingga beberapa kali terdengar erangan tertahan, lolos dari bibirnya yang bergetar.Perlahan ia membuka mata lalu beranjak ke posisi duduk. Aileen menekuk punggung lalu menyangga kepalanya yang terasa berat dengan kedua tangan—serasa tengah menopang beban ribuan kilo. “Sakit,” lenguhnya pelan sambil menekan perutnya.Aileen menegakkan tubuh lalu menginjak kaki di lantai dingin. Matanya meneliti bungkusan obat di atas nakas. Aileen yakin, sebelum naik ke atas ranjang, ia telah menegak sebungkus obat yang harus rutin di minumnya.Jemarinya meraih bungkusan kecil yang tersusun rapi di dalam box lalu menggenggam erat. Tertatih, Aileen menyeret langkahnya keluar dari kamar. Ia mendekatkan lengan ke wajah untuk menyeka keringat yang mengaburkan pandangan dengan permukaan lengan piyama yang dikenakannya.Aileen memanfaatkan setiap permukaan dinding sebagai tempat menumpukan tubuhnya yang lemah. Begitu melewati ruang tengah, A
“Bagas, bisakah aku pulang ke rumah?” Aileen bersuara setelah menimbang lama, ia merasa ini adalah waktu yang tepat.Ia menatap Bagas yang baru saja memarkirkan mobil dan melepaskan kemudi.“Bukankah kita sekarang di rumah?” tanggap Bagas sambil menjangkau seatbelt di sisi Aileen dan melepaskannya.Aileen menahan napasnya saat wajah Bagas hanya berjarak sebatas pandangan—sangat dekat hingga membuatnya tak bisa berkutik. “Maksudku rumah Ibu,” ralat Aileen setelah Bagas kembali ke kursinya.Buku-buku jari Aileen memerah akibat meremas jemarinya terlalu erat saat gugup. Ia mengatur ritme napasnya, demi menutupi kegelisahan yang tiba-tiba menghampirinya.“Buat apa?” Bagas menarik diri, namun tetap menautkan pandangannya dengan kening berkerut. “Dokter bilang kondisi Ibu sudah membaik. Apa beliau mengeluhkan sakit?”Ia menatap lekat untuk menyelami apa yang tengah dipikirkan oleh Aileen hingga membuat wanita itu gelisah dan terus saja mengalihkan pandangan, seolah tengah menghindar agar k
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.