Putri Palsu Pencuri Identitas yang Disukai Suamiku
Di hari aku menikah dengan Lukman, putri palsu itu bunuh diri. Di tahun kedua pernikahan, kami akhirnya tetap saling bermusuhan karena hal itu.
Lukman membenciku, si putri asli yang kembali dan menyebabkan kematian Bella. Sementara itu, aku membencinya karena masih merindukan putri palsu yang telah mengambil identitasku selama dua puluh tahun. Selama sepuluh tahun ini, kami saling melontarkan kata-kata paling kejam dan mengutuk satu sama lain tidak akan mati dengan tenang.
Hingga terjadi suatu gempa, Lukman malah mati-matian melindungiku di bawah tubuhnya dan menopang sebuah jalan untuk aku bertahan hidup dengan punggungnya. Saat balok atap runtuh, darah dan dagingnya berceceran.
Di ambang ajal, Lukman berbisik di telingaku, "Kalau sejak awal tahu dia akan mati, aku lebih memilih nggak pernah membawamu pulang. Kalau ada kehidupan selanjutnya, keluargamu cukup hanya aku seorang."
Pada akhirnya, aku tetap mati dalam gempa susulan. Saat kembali membuka mata, aku sudah kembali ke hari saat Lukman membawaku untuk mengenal keluargaku.
Namun, Lukman tiba-tiba berubah pikiran. "Citra, aku salah. Anak perempuan Keluarga Sardi yang hilang dua puluh tahun yang lalu itu bukan kamu."