Penantian Yang Tak Berujung
Michael selalu punya kebiasaan membuatku menunggu.
Demi membantu perusahaan suamiku melewati masa sulit, aku yang sedang hamil lima bulan, rela pergi menegosiasikan kerja sama di malam tahun baru.
Saat orang-orang di meja makan menyinggung soal suamiku, aku langsung reflek mencari alasan untuk membelanya.
Aku bertanya padanya kapan dia datang menjemputku dan Michael malah menyuruhku untuk tunggu sebentar lagi.
Nyatanya, dia malah bersembunyi di dalam mobil yang hanya berjarak sepuluh meter dariku, bermesraan dengan gadis yang pernah dia santuni. Sementara aku yang sedang hamil dibiarkan berdiri sendirian di tengah salju.
Dalam perjalanan pulang, kami terjebak kemacetan parah.
Di saat itulah, aku merasakan ada cairan hangat yang mengalir keluar dari tubuhku.
Aku menatapnya untuk meminta tolong, tapi seperti biasa, dia hanya menyuruhku menunggu dan menunggu.
Dari pantulan jendela, aku melihat layar ponselnya. Detik berikutnya, aku menyaksikan dengan jelas suamiku sedang santai membuka aplikasi chat untuk melanjutkan streak dengan gadis yang lebih muda.
Ternyata nyawaku dan anak kami sama sekali tak ada harganya dibandingkan dengan perbincangan itu.
Tepat tengah malam, kembang api tahun baru meledak di langit.
Namun kali ini, aku tak akan pernah lagi berdiri di tempat yang sama untuk menunggunya.