Pendekar Pedang Naga
Hanya satu pintu, sempit, dengan ukiran simbol yang tidak ada dalam bahasa mana pun yang mereka kenal.
Tapi Kael tahu. Saat jantungnya berdegup kencang mendekati pintu itu, ia tahu fragmen-fragmen itu bereaksi sekarang.
Pecahan di tasnya mulai bergetar. Cahaya merambat keluar perlahan, menyatu… seperti dipanggil pulang.
“Ini dia,” kata Kael dengan suara gemetar. “Ini kuil yang bahkan sejarah pun ingin melupakannya.”