Suami Perkasa
Saat hati masih jadi benteng, bukan pintu terbuka.
“Tapi setelah aku mencintaimu,” lanjutnya, “aku tahu... yang kau benar-benar inginkan bukan kekuasaan atau kemewahan. Tapi dihargai. Diterima. Dipilih.”
Sukma menunduk. Bibirnya bergetar, tapi ia tidak menangis.
“Dan kau tidak memilihku,”katanya pelan. “Pada akhirnya, kau tetap memilih dia.”