Ada seorang teman yang bercerita tentang neneknya yang tetap setia merawat kakeknya meskipun kakek sudah tidak bisa mengingat siapa pun lagi karena Alzheimer. Setiap pagi, nenek menyiapkan sarapan favorit kakek, membacakan koran dengan suara pelan, dan memandikannya dengan sabar seperti merawat bayi. Yang bikin gw terharu, nenek bilang, 'Dulu dia selalu ingat tanggal ulang tahunku, sekarang giliranku untuk mengingat segala sesuatu untuknya.' Kakek sering marah-marah tanpa alasan, tapi nenek cuma tersenyum dan bilang, 'Dia bukan marah sama aku, dia marah sama penyakitnya.' Gak ada alasan logis buat pertahanin hubungan seperti ini, pure cinta aja yang bikin nenek bertahan.
Pernah suatu hari kakek tiba-tiba nangis sambil pegang foto pernikahan mereka yang sudah pudar. Nenek kaget, lalu kakek bilang, 'Aku lupa siapa kamu, tapi hatiku tahu aku bahagia bersamamu.' Gw merinding denger cerita ini. Ini bukan soal balas budi atau pamrih, tapi tentang bagaimana cinta bisa bertahan bahkan ketika memori sudah hilang. Kadang cinta yang paling tulus justru muncul ketika kita gak bisa menjelaskan mengapa kita tetap mencintai.