Petaka Di Gunung Rinjani
lanjutnya, membingkai tragedi dalam konteks keniscayaan statistik, bukan kelalaian atau niat jahat.
“Tragedinya, pendakian Deri bertepatan dengan probabilitas itu. Tempat salah, waktu salah, keadaan salah,” tambahnya.
Firman ingin mempercayai penjelasan yang memberikan rasa keteraturan di tengah kekacauan, meski keteraturan itu adalah keacakan yang kejam. “Jadi ini hanya... nasib buruk? Kegagalan peralatan yang tidak bisa diprediksi atau dicegah?” tanyanya, mencari kepastian bahwa tidak ada yang salah, bahwa tragedi ini murni kebetulan, bukan akibat keputusan cacat atau tindakan pencegahan yang kurang.
Bab Populer