เข้าสู่ระบบKeterpurukan membuat Stella harus dipertemukan dengan Sean, pemilik lahan panti asuhan tempat di mana dia dibesarkan. Gadis berparas cantik itu terpaksa memohon pada Sean, agar tidak menggusur panti asuhannya. Segala cara Stella lakukan agar Sean mengabulkan permohonannya. Namun sayangnya permintaannya selalu ditolak oleh pria tampan arogan itu. Hingga suatu ketika ada sesuatu hal yang diinginkan Sean, sebagai bentuk pertukaran lahan panti yang akan pria itu gusur. “Apa yang bisa kau tawarkan jika aku mengabulkan permintaanmu?” tanya Sean dengan serigai di wajahnya. “Apa yang anda inginkan, Tuan?” Stella mendongakkan kepalanya, menatap manik mata cokelat gelap Sean. “Dirimu.” Sean menjeda, raut wajah arogannya terpancar begitu serius. “Kau bisa menawarkan dirimu sebagai imbalan atas apa yang kau inginkan.”
ดูเพิ่มเติม“Kalau saja waktu itu kamu jadi nikah sama Astari, mungkin kamu nggak akan kesulitan punya anak begini,” ujar Nenek Lasmini pada suatu pagi di hari Minggu kepada Cucu Kesayangannya, Raga Satria.
Pria yang baru saja genap berusia 33 tahun itu hanya menarik napas panjang sebelum kemudian menghembuskannya sangat perlahan.
“Mungkin belum jodoh aja kali,” jawab Raga singkat.
“Belum jodoh tapi kok pacarannya lama banget. Dia itu cinta pertamamu, kan?” Nenek Lasmini mencibir pelan.
Raga memilih untuk tidak menjawab.
Diam-diam, dia melirik ke sebuah sekat tembok tanpa pintu yang mana ada istrinya, Kinanti Sahara sedang membuatkan makanan untuk mereka bertiga. Ia hanya tidak mau perkataan Neneknya akan membuat wanita yang sudah dinikahinya selama tiga tahun terakhir itu akan membuat huru-hara.
“Dia yang nikahnya setahun lebih telat dari kamu aja bisa tuh langsung hamil. Tapi kenapa istrimu tidak bisa?”
Mendengar pertanyaan yang terus dilontarkan oleh Sang Nenek membuat dirinya menghembuskan napas berat.
Sudah tiga tahun pernikahannya dengan Kinanti tapi memang belum dikarunia seorang anak. Raga tahu seberapa besar keinginan Kinanti untuk segera bisa hamil. Tapi ia juga tidak ingin membebankan hal itu kepada istrinya. Maka dari itu, Raga tidak pernah menunjukkan rasa kekecewaannya setiap kali istrinya mengatakan bahwa haid bulanannya kembali datang.
“Nek, sudahlah. Kita kan sudah pernah bahas ini. Memang belum waktunya aja kali.”
“Ya tapi mau sampai kapan? Usiamu sudah tidak muda lagi loh.”
“Nanti kami usaha lagi ya, Nek?” jawab Raga. Ia membelai lembut punggung tangan neneknya yang sudah penuh dengan keriput itu.
“Jangan kelamaan, Raga. Nenek juga nggak tau umurnya sampai kapan.”
“Nenek jangan ngomong begitu. Nenek masih sehat kok.” Raga memijat pelan lengan Lasmini.
“Ya sudah, minggu depan anterin Nenek nengokin rumah ya. Sudah lama nggak ditengok nanti rusak rumahnya.”
Raga mengiyakan dan bersyukur bahwa Nenek tidak memperpanjang obrolan sensitif di hari Minggu ini.
Sudah setahun terakhir ini Nenek ikut tinggal bersama dirinya dan Kinanti di rumah mereka di Ibu Kota. Raga khawatir jika Nenek tinggal sendirian pasca Sang Kakek berpulang setahun yang lalu, sedangkan Tantenya tinggal jauh di luar pulau sehingga tidak memungkinkan memboyong Nenek ikut bersamanya.
Lagipula, Nenek Lasmi lebih memilih tinggal bersama cucu kesayangannya. Dan jarak dari rumah Raga ke Desa terbilang cukup dekat. Hanya berjarak tiga jam perjalanan sehingga memudahkan jika harus bolak-balik.
Tanpa sepengetahuan mereka, seorang wanita bertubuh ramping berdiri mematung dari balik tembok. Tangannya yang sedang memegang nampan berisi dua buah cangkir teh hangat beserta cemilannya bergetar pelan.
***
Kinanti Sahara, wanita yang kini sudah menginjak usia 24 tahun itu sebenarnya tidak mempermasalahkan ketika suaminya berkata jika ia ingin memboyong Sang nenek ikut tinggal di rumah mereka yang sederhana.
Siapa yang tega meninggalkan seorang wanita yang sudah lanjut usia serta tubuhnya sudah ringkih itu tinggal di rumah sendiri?
Awalnya hubungan mereka berjalan baik-baik saja. Kinan merasa cukup terbantu dengan kehadiran Sang Nenek karena bisa langsung memasak bersama dengan Nenek yang memberikan resep rahasia untuk makanan cucunya yang sangat ia sayangi itu.
Tapi hal itu tidak membuat Kinanti mendapatkan ruang yang spesial di hati Lasmini.
Sejak awal dia selalu bertanya-tanya, tapi Raga menyakinkan dirinya bahwa memang sudah karakter Nenek Lasmi yang tidak bisa begitu gamblang mengungkapkan rasa perhatiannya.
“Kamu kenapa diam saja, Sayang?”
Pertanyaan suaminya yang tiba-tiba itu membuatnya tersentak. Kemudian ia menoleh dan sudah mendapati suaminya tengah memandangnya dengan tatapan penuh selidik.
Hari sudah berlalu, Kinanti lebih banyak diam. Hanya berbicara seperlunya saja kepada Nenek Lasmi, meski hari-hari biasanya juga seperti itu. Cuma bedanya kali ini ia lebih menunjukkan keengganan menemani Sang Nenek menonton televisi yang menayangkan sinetron kesukaannya.
Ada kalanya hatinya lelah.
“Aku kan lagi ngelipetin pakaian, Mas.” Kinan menjawab tanpa menatap mata suaminya.
“Tapi sepertinya dari tadi pagi sikapmu agak aneh,” ujarnya lagi.
“Aneh gimana? Perasaan Mas Raga aja mungkin.”
Kening Raga semakin mengerut. Seolah ia tahu bahwa istrinya tidak sedang baik-baik saja. Dengan lembut, ia merengkuh bahu Kinan sehingga membuat wanita itu menghentikan aktivitasnya.
Kedua mata mereka saling bertemu.
“Jawab yang jujur, Kinan. Ini bukan kamu yang biasanya.”
Kinan tahu bahwa jika dirinya tidak bisa menyembunyikan apapun dari suaminya. Perlahan ia mendesah pelan sebelum kemudian membuka mulutnya kembali.
“Kamu nggak pernah cerita soal Astari.”
Raga mengerjapkan matanya selama beberapa saat. “Kamu mendengar perbincangan aku dan Nenek tadi pagi ya?”
“Kedengaran jelas sampai ke dapur.”
Pria itu mendesah pelan kemudian menarik tangan istrinya dan mengelusnya perlahan.
“Jangan dipikirin apa kata Nenek ya, Sayang. Kamu kan tau sendiri kalau Nenek itu suka begitu kalau ngomong.”
“Kalau soal itu aku tau tapi kamu nggak menjawab pertanyaanku, Mas. Kenapa kamu nggak pernah cerita soal mantan kamu yang bernama Astari?”
“Itu semua sudah masa lalu, Sayang. Jadi aku pikir, aku nggak perlu membahas mantan.”
“Tampaknya kalian pernah berpacaran lama sekali sebelum akhirnya kamu menikahiku. Sampai-sampai Nenek bisa sayang banget sama dia.” Tersirat nada sinis dari suara Kinan.
Raga mengerutkan keningnya, menyadari apa yang sedang dirasakan oleh istrinya.
“Kamu cemburu?”
Kinan tidak langsung menjawab. Lama ia menatap suaminya dengan harapan bahwa pria itu bisa tau gejolak perasaan apa yang sedang dihadapi saat ini.
“Orangnya udah nikah, Sayang. Jangan dipikirin begitu ah. Nggak baik buat kesehatan. Apalagi kalau kita sedang program hamil kan?” Raga mengelus perut Kinan yang masih rata dengan harapan besar usaha mereka di bulan ini bisa membuahkan hasil.
“Maaf ya, Mas. Aku belum hamil aja sampai sekarang.” Kinan menggigit bibir bawahnya. Hatinya seperti teriris kerap kali tamu bulanan itu hadir. Ia tahu bahwa Raga sekuat tenaga berusaha untuk menyembunyikannya agar Kinan tidak berkecil hati.
“Nggak apa-apa, kita kan udah lakukan yang terbaik.”
“Mas?” Kinan memanggil lagi. Kali ini kalimatnya menggantung di ujung lidahnya. Seolah ia tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
“Ada apa?”
“Kamu nggak ada pikiran untuk menikah lagi kan?”
“Darimana pikiran seperti itu?” Pertanyaan yang dilontarkan oleh Kinan itu sukses membuat Raga melongo.
Kinan menunduk. Tangannya meremas ujung bajunya. Gelisah.
“Karena aku bukan seperti mantan kamu yang baru menikah sudah langsung dikasih amanah seorang anak.”
“Kinanti Sahara, aku sudah berjanji kepada orang tuamu untuk menjaga anak satu-satunya mereka. Jadi mana mungkin aku berbuat hal seperti itu.”
“Tapi…”
“Soal anak, nanti kita cari usaha lagi ya. Dan jangan pikirkan apa yang Nenek katakan tadi siang. Namanya juga sudah tua, kalau ngomong pasti agak ngelantur.” Raga membelai lembut punggung istrinya.
Sejurus kemudian Kinan kembali menemukan rasa aman dan nyaman jika berada di samping pria itu. Yang merupakan salah satu alasan mengapa ia menerima pinangan Raga Satria tiga tahun yang lalu. Meskipun hubungan mereka awalnya sempat mengalami sebuah pertentangan.
Ayah Kinan tidak langsung menerima niat baik Raga kala itu. Sebagai alasan utamanya karena Ayahnya sendiri merasa belum siap jika Kinan harus cepat-cepat menikah padahal baru saja lulus kuliah dan baru diterima magang di kantor yang mempertemukannya dengan Raga.
“Jangan khawatir, aku nggak akan nyakitin kamu. Aku nggak akan menikah lagi hanya karena menginginkan anak. Aku cuma mau bersama kamu selamanya.”
Perlahan Kinan mengangguk.
Kekalutan yang dialaminya sejak tadi siang perlahan sirna dan memutuskan.
‘Selama Mas Raga masih berpihak padaku. Aku akan baik-baik saja,’ ujar Kinan dengan mantap.
Dan setengah berharap bahwa suaminya benar-benar menepati janjinya.
***
Beberapa bulan kemudian …Venice, Italia.Stella menatap hangat Shawn, Stanley, dan Steve yang tengah bermain saling mengejar sambil memakan ice cream di tangan mereka. Ya, tentu Stella tak perlu cemas karena Sean menyiapkan enam pengasuh khusus untuk ketiga anak kembar mereka dan sepuluh pengawal yang selalu berjaga-jaga mengawasi Shawn, Stanley, dan Steve. Terutama ketika mereka berlibur seperti ini maka penjagaan Sean sangat ketat.Kini tatapan Stella mulai teralih pada Savannah yang tertidur pulas dalam pelukannya. Putri kecilnya itu sangat cantik dan menggemaskan. Tangan Savannah peris seperti gulungan roti gemuk. Pipi bulat seperti bakpau. Bayi perempuannya memang sangat cantik dan menggemaskan.“Stella, apa kau masih ingin tinggal di New York? Atau kau ingin kita segera kembali ke Jakarta?” tanya Sean sembari menatap sang istri.Stella tersenyum hangat. “Biarkan saja kita di sini dulu, Sean. Anak-anak kita memiliki banyak teman di sini. Aku tidak tega memisahkan mereka dengan t
Suara tangis bayi memecahkan kesunyian ruang persalinan. Stella meneteskan air matanya kala mendengar suara tangis bayi itu. Tak hanya Stella yang menteskan air mata tapi Sean yang selalu ada di sisinya pun sampai menteskan air mata. Setelah sekian lama akhirnya mereka kembali memiliki seorang anak lagi. Berawal dari rasa putus asa Stella nyatanya memiliki akhir yang indah. Tentu semua karena Sean yang memberikan dukungan luar biasa untuk Stella.“Tuan Sean … Nyonya Stella … selamat bayi Anda perempuan.” Sang dokter berucap langsung membuat Sean dan Stella tak henti meneteskan air mata mereka. Ya, Tuhan begitu baik pada mereka. Harapan mereka memiliki anak perempuan terwujud.“Sean … anak kita perempuan,” isak Stella.“Iya … anak kita perempuan. Terima kasih, Sayang.” Sean memberikan kecupan di bibir istrinya. Derai air mata mereka tak henti berlinang.“Nyonya Stella, silahkan lakukan proses IMD.” Dokter menyerahkan bayi mungkin itu ke dalam gendongan Stella. Sesaat Sean menatap Stell
“Nyonya, apa hari ini kita memasak menu Indonesian Food?”Suara pelayan bertanya pada Stella yang tengah sibuk di dapur. Ya, hari ini Stella akan kedatangan tamu special yaitu Jenniver—sepupunya. Jenniver tengah berlibur bersama Theo ke New York. Dan karena Jenniver akan datang, Stella mengundang Kelvin, Alika, Ken, dan Chery untuk datang. Hal itu yang membuat Stella sibuk di dapur. Stella memang memiliki chef khusus dan pelayan tetapi tetap saja dalam hal memasak, Stella tetap turun tangan sendiri. Namun kali ini porsinya berbeda. Stella tidak banyak melakukan apa pun. Dia hanya mengontrol saja. Mengingat kandungannya sudah membesar.“Masak saja, Mbak. Masak Indonesian Food juga. Jenniver dan Theo suka sekali dengan menu rawon dan ayam sayur. Tolong masak menu itu. Ah, satu lagi jangan lupa sambal goreng kentang.” Stela berujar memberi perintah pada sang pelayan dengan nada lembut.“Baik, Nyonya.” Sang pelayan menundukan kepalanya, lalu kembali memulai memasak membantu pelayan lainn
Stella mengembuskan napas panjang kala mengingat laporan dari pengawal sang suami tentang kejadian di Central Park. Kejadian di mana Stanley membuat seorang gadis kecil menangis karena membuang permen pemberian gadis itu. Sungguh, Stella sangat sedih karena putranya bertindak demikian. Meski mertuanya sudah memberikan nasehat pada ketiga putranya tapi tetap saja Stella merasa gagal mendidik ketiga putranya.“Apa kalian hanya ingin diam saja? Tidak mau bilang apa-apa pada, Mommy?”Suara Stella menegur ketiga putranya yang tengah duduk di hadapannya itu. Ya, kini Stella berada di kamar Shawn. Kamar Shawn, Stanley, dan Steve memang terpisah. Tetapi karena Stella ingin berbicara dengan ketiga putranya maka tanley dan Steve mendatangi kamar Shawn. Tampak ketiga bocah laki-laki kembar itu menunduk. Tentu mereka tahu mereka akan mendapatkan teguran dari ibu mereka.“Mommy ini salahku. Maafkan aku, Mommy,” ucap Stanley dengan suara polosnya.Stella menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskan
Beberapa minggu kemudian… Stella tak pernah menyangka kalau dirinya akan menetap sementara di New York. Awalnya Stella ingin melahirkan di Jakarta tetapi kandungan yang membesar, dan dia pun takut kalau kandungannya akan terkena radiasi pesawat. Meski dokter mengatakan kehamilannya baik-baik saja ta
Suara dering ponsel berbunyi membuat Sean dan Stella yang tengah tertidur pulas langsung terbangun. Beberapa kali Stella mengerjapkan mata. Tampak Stella masih begitu mengantuk dari dalam pelukan sang suami.“Sean, jawablah ponselmu terus berbunyi. Mungkin itu penting,” ucap Stella meminta Sean untuk
New York, USA. Sean menggenggam tangan Stella melangkah menuju lobby bandara. Ya, pesawat yang membawa Sean dan Stella baru saja mendarat di Bandar Udara Internasional John F. Kennedy. Setelah perjalanan panjang, akhirnya mereka tiba di New York. Selama perjalanan, Stella tidak mengeluh apa pun. Bah
Alika menatap Kelvin yang masih memejamkan mata. Sekitar tiga puluh menit yang lalu seluruh keluarga telah pulang. Alika sengaja meminta keluarga dari sang suami untuk pulang. Tentu Alika merasa khawatir. Terutama pada ayah mertua, dan ibu mertuanya. Dan sekarang hanya Alika yang menunggu sang suami






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น