Ada satu baris dari karya Ahmad Tohari yang selalu membuat aku terhenyak setiap kali teringat: 'Srintil menari bukan karena ia mau, melainkan karena kehendak orang-orang di kampung.' Kutipan ini sering dikaitkan dengan novel 'Ronggeng Dukuh Paruk' dan jadi semacam simbol tentang hilangnya kebebasan individu di bawah tekanan tradisi.
Buatku, maknanya berlapis. Di permukaan, itu bicara soal Srintil—seorang perempuan yang dipaksa menjadi ronggeng oleh harapan dan kehendak kolektif masyarakatnya. Lebih jauh lagi, baris itu menggarisbawahi bagaimana institusi sosial bisa mengontrol tubuh dan pilihan seseorang, terutama perempuan. Di desa fiksi itu, tarian bukan cuma soal seni; tarian adalah mata uang sosial, hiburan, dan alat kuasa. Ketika kehendak individu tertindas oleh norma yang dianggap "lebih besar", pilihan pribadi jadi hampir tidak ada.
Aku pernah membaca ulang bagian ini sambil merasa marah dan simpatik sekaligus. Kutipan itu bikin aku mikir soal betapa rapuhnya kebebasan ketika diliputi adat, ekonomi, dan ekspektasi. Makanya, selain sebagai kalimat yang menyentuh, ia juga jadi panggilan untuk mempertanyakan struktur sosial—siapa yang diuntungkan dari tradisi, dan siapa yang harus menanggungnya. Akhirnya aku selalu tutup buku dengan rasa bahwa cerita sederhana bisa membuka mata tentang ketidakadilan yang rumit.