Cahaya Biru
Suara murid-murid pun bersahutan, "Selamat pagi, Bu Wanti."
Tanpa berlengah, Bu Wanti langsung mengarahkan pandangannya kepadaku yang duduk di baris ketiga. "Aya, bagaimana, apa kamu masih sanggup jadi mentor Biru?" tanyanya dengan nada serius.
Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab, "Masih Bu," suaranya terdengar agak ragu. Dalam hati, aku sebenarnya merasa kesal karena harus belajar bersama Biru yang selalu acuh tak acuh dan tidak menunjukkan minat untuk belajar. Namun, mengingat antusiasme orang tuanya, aku hanya bisa bertahan dan berusaha sebaik mungkin.
Sikat na Kabanata