Menggali kembali peristiwa 1998 terasa seperti membuka luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Aku ingat bagaimana suasana Jakarta waktu itu tegang sekali, terutama setelah kerusuhan Mei. Banyak mahasiswa hilang secara misterius, dan keluarga mereka sampai sekarang masih mencari kejelasan. Dari cerita-cerita yang kudengar, operasi penculikan itu dilakukan secara sistematis oleh tim khusus. Mereka biasanya menarget aktivis kampus yang vokal mengkritik rezim, diambil paksa tengah malam atau saat sedang sendiri.
Yang bikin merinding, ada pola mirip dalam modus operandinya—kendaraan gelap tanpa plat, penyergapan kilat, dan tak ada jejak setelahnya. Beberapa korban akhirnya dilepas setelah mengalami penyiksaan, tapi ada yang tidak pernah pulang. Aku pernah baca laporan Kontras tentang ini, dan detailnya bikin hati miris. Sampai sekarang, keluarga korban masih berjuang untuk pengakuan negara. Ini bukan sekadar sejarah, tapi luka kolektif yang butuh pemulihan lewat keadilan.